Yang Tersisa Dalam Ingatan

           Ilustrasi gambar Paskalis Lisa

“Mungkin masa lalumu pahit dan menyakitkan, tapi percayalah itu menjadi sebuah pembelajaran untuk tetap kuat dan sabar."

   Waktu terus berputar, aku masih mengingat tentang dirinya. Memori kelam itu tidak bisa kulupakan dalam ingatanku. Bayangan wajahnya selalu muncul dalam pikiranku. Aku masih berharap untuk bertemu, dan memeluk dirinya walau hanya sesaat, untuk melepaskan rinduku tentang dirinya. Tapi, pada kenyataannya aku hanya bisa mengingat dirimu walau itu sakit bagiku.

   Cinta yang kuberikan padamu dengan ketulusan, namum kamu membalasnya dengan dusta. Bukankah kamu pernah berjanji, untuk saling setia dan menjaga hati bila berjauhan. Disaat aku tidak ada di sampingmu, engkau membuka hatimu untuk lelaki lain. Engkau telah mengingkari janjimu sendiri.

   Aku kecewa padamu. Aku terluka karenamu. Secepat itukah engkau melupakanku bila aku tiada di dekatmu. Aku tidak tahu, apa yang di dalam pikiranmu sehingga engkau tega berbuat seperti itu padaku. Apa salahku hingga engkau melukai perasaanku? Yang pasti engkau telah menduakan cintaku. Aku lelaki yang bodoh yang mencintaimu, tapi aku dibodohi oleh cintamu. Baiklah aku akan pergi dari kehidupan dan melupakan tentang kisah kita.

     ***

   “Kamu tahu nggak, kamu itu lelaki yang paling istimewa dalam hidupku. Aku akan selalu mencintaimu dalam keadaan apapun," ujarnya waktu itu padaku. Aku hanya senyum, dan memegang erat tangannya dan berkata kepadanya "Aku juga beruntung memilikimu, kamu adalah cinta pertamaku. Aku takkan melukai dan menduakanmu."

   Aku menangis dalam kesendirianku ditemani sepi. Aku menepi dan menjauh dari segala kesibukanku. Aku tak bisa menerima kenyataan ini. Orang yang aku cintai menghianatiku. Aku tak bisa berbuat apa-apa untuk mencenggahnya, aku hanya merelakan kepergiannya dari hidupku. Mungkin ini yang terbaik untuk kami berdua, agar tidak saling menyakiti satu sama lain.

   Tiga tahun lamanya kita menjalin hubungan. Tapi, sekejap engkau memutuskan hubungan kita, dengan dalih tidak ada rasa lagi untuk diriku. Bahkan aku tidak tahu di mana letak kesalahanku. Aku bingung harus berbuat apa untuk mempertahankan hubungan kita. Aku berjuang sendiri, sedangkan kamu tidak memperjuangkan cinta kita.

   “Kita putus sekarang,” katanya waktu itu. Aku kaget dengan ucapannya itu. “Kamu jangan bercanda, aku tidak mau kita putus” jawabku. “Aku serius dengan ucapanku barusan tadi, aku tidak bisa melanjutkan hubungan ini, lebih baik kita putus saja untuk kebaikan kita berdua,” lanjutnya. Aku diam dan membisu untuk sesaat. “Kalau aku ada salah, tolong ceritakan kepadaku, agar aku memperbaiki kesalahanku itu,” aku menjawab dengan nada serak. Namun dia hanya diam dan tak menjawab pertanyaanku. Dia pergi meninggalkanku seorang diri tanpa ada kata pamit untuk diriku.

    ***

   Cinta yang seharusnya dia jaga, namum dia hianati cinta itu. Aku lelah berjuang sendiri, sedangkan dia ingin kami cepat putus. Beberapa kali aku memohon padanya agar tetap bersama padaku, nyata ia menolak dan ingin akhiri hubungan kami. “Aku mohon kita jangan putus ya, aku tidak bisa putus darimu. Kamu itu cinta pertamaku," aku memohon agar dia luluh dan tidak jadi putus darinya. Tapi dia menjawab “maaf ya, aku tidak bisa melanjutkan hubungan kita. Aku mau kita jadi teman saja”.

   Hatiku sangat hancur ketika dia menjawab seperti itu. Aku hanya diam, tidak ada suara yang keluar dari mulutku, hanya air mata menetes di pipiku. Aku lelaki yang paling bodoh menangisi perempuan yang menyakiti hatiku. Itulah cinta. Tidak pandang laki-laki atau perempuan. Ketika hati sudah sakit, hanya air mata yang menandakan kalau ia benar-benar terluka.

   Mengingatmu saja membuat aku terluka. Apalagi memikirkanmu membuat kecewa. Tapi, apa yang terjadi pada diriku yang mengingat tentang kisah kita. Kisah yang tidak sesuai ekspetasiku. Pada kenyataannya, kamu lebih memilih dia dibandingkan diriku yang sudah lama bersamamu. Cinta memang tidak pernah diketahui, kapan dia akan berubah dan mengapa itu terjadi. Hanya satu jawabannya dari diri kita sendiri. Kalau kita memiliki pendirian untuk setia, maka kata perpisahan tiada dalam sebuah hubungan.

   Dalam ingatanku saat ini, mengapa hal ini terjadi dan penyebabnya apa. Sampai saat ini, aku masih bertanya pada diriku, di mana letak kesalahanku hingga dia memutuskan aku begitu saja. Apa mungkin dia sudah bosan? Atau dia sudah tidak lagi ada rasa untukku lagi? Pertanyaa-pertanyaan seperti ini selalu muncul dalam alam sadarku.

   Yang tersisa dalam ingatanku hanya ada kata cinta untuk dirinya. Tiada kata lain, selain cinta. Cinta ini begitu besar terhadap dirinya, tapi dia menghianati cintaku. Dan dia lebih memilih lelaki yang baru dia kenal di saat aku tidak ada di sampingnya.

   Ada pepatah bilang “Ketika dua insan saling mencintai, tapi salah satunya pasti ada yang menghianati cinta itu." Itulah yang kurasakan sekarang ini, aku mencintai dia dengan sepenuh hatiku, tapi dia menghianati cinta itu. Tragis memang, sungguh tragis. Ini sungguh di luar dugaanku, nasib cintai tak seindah yang kubayangkan.

   Dalam ingatanku, kamu adalah gadis yang membuat aku bagaimana cara mencintai dan dicintai. Kamu pula menyakitiku dengan cara kejammu. Kamu menikamku dari belakang hingga aku tidak bisa bernafas walau sedetik pun. Kamu tidak memberiku ruang untuk gerak untuk bisa bernafas, kamu hanya memikirkan tentang dirimu. Kamu itu egois dalam kata cinta. Cintamu membuat aku luka. Cintamu membuatku sakit hati.

     ***

   Saat pertama bertemu denganmu, suasana hatiku begitu nyaman dan damai. Aku berpikir kamu adalah wanita yang kirim Tuhan untuk menjadi belahan jiwaku. Tapi aku salah menilai saat itu, ternyata kamu orang yang pertama membuat aku terluka. Orang pertama yang membuat aku tidak jatuh lagi kepada orang lain. Karena hatiku terlanjur kecewa dan sangat sulit untuk menyembuhkan luka ini. Aku takut jatuh cinta lagi, takut terulang kembali luka yang sama yang telah kau tanam dalam ragaku.

   Aku terlanjur terluka, sehingga sangat sulit bagiku untuk membuka hatiku lagi. Aku trauma pada cinta yang salah, cinta yang membuat aku patah hati. Hatiku begitu hancur saat kamu meninggalkanku saat itu. Kamu yang membuat aku tidak percaya lagi dengan cinta. Kamu juga membuat apa arti sebuah cinta yang saling menyakiti walau masih bersama. Aku hanya bisa mencintai diriku sendiri, aku tidak bisa mencintai orang lain karena trauma ini masih membekas di hatiku.

   “Kamu itu seperti Romeo yang selalu melindungiku setiap saat. Kamu itu adalah belahan jiwaku," katamu waktu itu padaku. Tapi itu semua menjadi omong kosong, nyata kamu pergi dan meninggalkanku seorang diri. “Kamu itu orang yang berarti dalam hidupku lebih dari diriku sendiri," ujarnya dan memelukku sebagai tanda kehangatan cintaku padamu. Aku waktu itu, begitu bahagia mendengar ucapanmu bahkan aku tidak bisa tidur semalam hanya memikirkanmu. Tapi itu semua menjadi hal paling tidak kuinginkan dan kudengarkan ucapanmu. Ucapanmu hanya bualan semata dan mengelabuiku untuk mencintaimu dengan ketulusanku.

   Sampai saat ini aku tidak bisa melupakan tentang dirimu, walaupun kamu telah menyakiti hatiku tapi aku masih merindukanmu. Aku terlalu mencintaimu lebih dari diriku sendiri. Aku bahkan tidak tahu mengapa hal ini terjadi padaku, yang pasti aku selalu merindukanmu di saat aku kesepian.

   Hanya satu kupinta pada Tuhan agar kita dipertemukan kembali, bukan lagi untuk menjadi seorang kekasih melainkan sebagai teman curhat. Aku ingin melihat wajahmu walau hanya sebentar saja, aku begitu merindukanmu. Setelah kamu pergi dan menjauh dariku, kamu menghilang bagaikan ditelan bumi. Sesekali aku mencari keberadaanmu, tapi aku tidak bisa menemukanmu. Kamu tahu, kamu itu berarti dalam hidupku.

   Semua kisah kita masih jelas dalam ingatanku. Aku tidak bisa menghapus memori kenangan bersama kita. Kenangan yang begitu arti bagi hidupku. Aku ingin kenangan itu kembali lagi seperti sedia kala, tapi itu sangat sulit bagiku dan bagimu. Kini kamu bahagia dengan kehidupanmu, sedangkan aku masih sendiri yang tak ada arah tujuan hidup.

   Biar luka dan kenangan ini menjadi tanda bahwa kita pernah bersama dulu. Mungkin kisah kita tak semenarik kisah Mahabrata. Kisah kita memang sederhana, tapi bagiku kisah kita adalah kisah yang paling sempurna dalam hidupku. Mungkin orang bilang itu lelucon dan konyol. Tapi bagiku, setiap saat bersamamu adalah warna dalam kehidupanku. Aku tidak peduli apa kata orang, tentang diriku yang terlalu overthingking terhadap dirimu. Tapi bagiku cinta yang membuat aku seperti ini.

   Itu semua menjadi masa lalu antara aku dan kamu. Aku harus bisa move on, dan harus melupakan tentangmu. Hidupku masih berlanjut, dan perjalananku masih panjang. Biarlah waktu yang menentukan nasib cintaku kedepannya. Aku hanya pasrah pada Sang Kehidupan, biar dia yang menentukan yang terbaik bagi. Terima kasih pembelajaran yang engkau berikan padaku. Aku belajar untuk mengikhlaskan tanpa harus melukai perasaanmu. Aku hanya berdoa semoga kamu bahagia dengan pilihanmu.


Penulis : Paskalis Lisa, Anggota Papyrus Unitri


Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.