Pendidikan dan Kekangan: Diskusi Film Dead Poets Society

Papyrus.com - Kekangan institusi pendidikan terhadap peserta didik menjadi bahasan yang menarik dalam Diskusi dan Nonton Film yang diadakan Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Papyrus, Universitas Tribhuwana Tunggadewi Malang, Rabu (10/5). Film berjudul Dead Poets Society itu dibedah oleh Pimpinan Redaksi malangpagi.co, Moh. Arif dengan lugas dan tuntas.

Diskusi yang lebih banyak dihadiri mahasiswa Ilmu Komunikasi itu berjalan santai, meskipun tidak menghilangkan keseriusan membahas tema film yang terkesan berat. “Institusi pendidikan kita, tidak hanya di tingkat lokal Indonesia, bahkan dunia, masih terus mencari jati diri dan belum mendapatkan gambaran yang sempurna,” ungkap Arif yang juga guru Bahasa Indonesia di MTs Roudlotul Ulum Mojosari itu, mengawali diskusi.

Film Dead Poets Society yang dirilis pada tahun 1989 tersebut mengisahkan Wellton Academy (setingkat SMA di Indonesia) yang mendidik siswanya untuk mematuhi empat hal : tradisi, disiplin, kehormatan, dan kecerdasan. Empat hal ini membebani siswa sehingga membuat mereka tertekan. Ditambah harapan orang tua kepada anak-anak mereka yang disekolahkan di sana membuat tekanan bertambah berat.

Hal itu berubah ketika seorang guru Bahasa Inggris yang baru, John Keating, memberlakukan cara pengajaran yang berbeda. Ia dianggap inspirator ketika mengenalkan istilah ‘carpe diem’ yang berarti ‘petiklah hari ini’. Keating mengajak siswanya untuk menjadi pemikir bebas yang harus melepaskan diri dari kekangan. Sementara Dead Poets Society (DPS) sendiri adalah nama sebuah komunitas milik Keating semasa sekolah, lalu dihidupkan lagi oleh para siswa tanpa sepengetahuan Keating.

Sekelompok siswa ini kemudian mengidentikkan dirinya dengan sebutan DPS dan membangkitkan keberanian mereka untuk bertindak –jika tidak dikatakan sebagai perbuatan nekat. Kenekatan ini mengakibatkan salah satu siswa, Dalton, harus dihukum pukulan di pantatnya oleh kepala sekolah. Tragisnya, siswa terbaik ‘Neil Perry’ harus bunuh diri dengan rela setelah ia yakin tidak mampu melepaskan kekangan dari ayahnya. Akhirnya, Keating terusir dari Wellton dengan akhir kisah seolah-olah berteriak ‘kebenaran akan tetap terlihat’.

“Selain soal pendidikan, ada beberapa hal yang menarik dalam film ini. Misalnya, sastra harusnya dipelajari dan dibaca untuk mengisi hidup agar bergairah, bukan sekadar diukur menggunakan pendekatan matematis. Karena kata Keating dalam film itu, setiap manusia dipenuhi gairah, kecantikan, dan cinta,” lanjut Arif menjawab pertanyaan peserta diskusi.

Acara yang juga dihadiri redaktur reportasemalang.co, Agus Salim Muhammad, itu berjalan lancar hingga tiga jam. Diskusi juga diisi oleh Faisal Akbar La Osisa yang mengaitkan film dengan DPS dengan pengungkapan akan kehidupan dan kematian, lalu Suhardi yang lebih menekankan pesan ‘keterasingan’ pada setiap orang yang hendak melakukan perubahan, Firda Umari yang membandingkan pelaksanaan pendidikan di Wellton Academy, dan Liyan, mengungkapkan frame paling menarik di dalam film ketika Keating merenung tentang kematian Neil.

Di akhir pertemuan, Kepala Laboratorium Jurnalistik, Fathul Qorib, turut memberikan komentarnya. Lalu ia mengakhiri diskusi dengan statemen : “Dead Poets Society menunjukkan tesis Michael Faucoult bahwa tubuh individu banyak dikekang oleh  struktur yang dominan. Dan film ini, menunjukkan beberapa jalan keluar dari pengekangan. Salah satunya yang paling klimaks adalah dengan menyerahkan kehidupan pada esensi teragung, Tuhan, atau dengan kata lain, bunuh diri,” tandasnya.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »