Sampah Penyambung Hidup

Foto : Bu Sri mengumpulkan
barang bekas ditumpukkan sampah
.
Lpm-papyrus.com - Matahari kembali terbit, pagi kembali datang. Jalan Tlogomas gang 9 ramai seperti biasanya. Suara bising kendaraan yang berlalu lalang menyelimuti pagi. Semua orang pasti menginginkan menghirup udara yang segar dipagi hari. Udara yang dingin dengan embun yang membawa kesejukan serta ketenangan. Namun tidak untuk Ibu Sri.

Wanita berusia 58 tahun ini, harus merelakan udara segarnya digantikan dengan udara yang bercampur dengan bau sampah yang kian membusuk. Namun udara pagi seperti itu tidak pernah menjadi musuhnya, untuk menurunkan semangatnya memulai pekerjaan. Tatapannya lurus kedepan, ke arah tumpukan sampah. Tatapannya bak memandang indahnya deburan air laut dipantai.

Dihadapan saya saat itu, berdiri seorang wanita tangguh dengan wajah penuh keruttan, dengan tubuh yang tak mampu lagi berdiri dengan tegap, yang telah siap bertempur. Bertempur melawan rasa lapar yang akan menyerang kalau tak dapat cukup kertas atau botol bekas untuk ditimban kilo. Sekilo botol minuman bekas, sama dengan beberapa puluhan botol. Puluhan botol itu sama dengan sejumput nasi yang akan dimakanya hari itu.  Menurut ibu Sri botol-botol minuman bekas itu dihargai sekilo seharga Rp. 1.200.

Beliau sangat mensyukuri atas nikmat sang Maha Pencipta, yang diberikan kepadanya. Walaupn beliau hanya hidup bersama dengan suaminya yang berusia lebih dari setengah abad. Usia suaminya yang tidak muda lagi itu membuat suaminya mulai terserang penyakit, dan hanya bisa berdiam dirumahnya.

Bu Sri adalah contoh seorang pekerja keras, sebab tak mengenal panas, hujan untuk bekerja keras. Namun entah mengapa banyak sekali orang yang menganggap remeh pemulung. Mungkin jika pemulung  tidak ada,  bisa jadi bumi ini penuh dengan sampah yang tak berguna,sehingga menyebarkan penyakit yang tidak dinginkan. (lian)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.