Header Ads

ad

Unitri Sosialisasikan Perubahan Instrumen Akreditasi 4.0

Suasana berlangsungnya sosialisasi


Lpm-papyrus.com- Universitas Tribhuwana Tunggadewi (Unitri) menyelenggarakan sosialisasi penyusunan instrumen Akreditasi Perguruan Tinggi (APT) dan Program Studi versi 4.0 di Ruang Sidang, Jumat (14/6). Instrumen ini akan menggantikan versi 3.0 sehingga perlu diketahui seluruh dosen di Unitri.

Sosialisasi tersebut dihadiri oleh Rektor Unitri beserta jajaran dosen dan juga pemateri dari Universitas Brawijawa (UB), perubahan instrumen akreditasi tersebut dilakukan karena situs yang lama sudah ketinggalan dan terakhir diperbarui pada tahun 2011.

Pemateri dalam sosialisasi tersebut Drs. Johan Andoyo Effendi Noor, M.Sc.,Ph.D mengatakan, bahwa pada tahun 2012-2018 ada peraturan-peraturan baru terkait dengan pendidikan tinggi sehingga harus diadopsi dengan cara mengupdate instrumen akreditasi.

"Pada tahun 2012 sampai dengan 2018 sudah ada peraturan baru terkait pendidikan tinggi, sehingga harus diadopsi dengan cara mengupdate instrumen akreditas," ujarnya.

Dosen fisika Universitas Brawijawa (UB) tersebut menambakan, instrumen baru tersebut mindsetnya adalah outcome output sedangkan sebelumnya adalah input proses sehingga lebih menekankan pada hasil pembelajaran bukan pada proses.

"Instrumen yang baru ini mindsetnya adalah outcome output sedangkan yang lama input proses. Jadi instrumen yang baru ini lebih menekankan pada hasil pembelajaran bukan pada proses," tambahnya.

Hal senada juga disampaikan oleh Rektor Unitri Prof. Dr. Eko Handayanto M.Sc, bahwa Program Studi (Prodi) yang ada di Unitri mampu mengikuti instrumen yang baru karena semua data sudah disediakan hanya belum tertata menjadi satu.

"Tahun ini ada 5 Prodi yang akan di akreditasi jadi kita harus bisa mengikuti perubahan yang ada," ungkapnya.

Lebih lanjut Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisip) Unitri Dr. Willy Tri Hardianto S.Sos., MM., M.AP, menyatakan dalam menyambut instrumen akreditasi, Fisip harus mengadakan sosialisasi, mempelajari dan juga membentuk tim untuk menghadapi instrumen akreditasi tersebut.

"Dulu Prodi lebih terlibat sedangkan yang sekarang fakultas lebih banyak berperan dan bertanggung jawap tidak ada instrumen yang paling sulit, hanya saja bobotnya paling tinggi adalah standar 9 mencakup penelitian serta kinerja dari mahasiswa maupun dosen dan ini yang akan banyak menyita waktu," pungkasnya. (Eman/Ambu)


No comments