Header Ads

ad

Joglo Dau, Rumah Makan Bernuansa Budaya Jawa

Rumah makan dan lesehan Joglo Dau Malang

Lpm-papyrus.com- Di era modernisasi yang cukup kuat, nilai-nilai kebudayaan dan kearifan lokal masyarakat Jawa kian lama, kian pudar. Namun tidak bagi Rumah makan dan lesehan Joglo Dau Malang.

Rumah makan ini berdiri sejak tahun 2001 pada bulan maret, didirikan oleh Almarhum Dedy Hariono yang merupakan pencinta barang budaya dan seni khas Jawa serta sebagai kolektor benda-benda antik dan Ibu Kunwindrati yang memiliki hobi masak. Sejak saat itu mereka memadukan konsep masak dan seni khas Jawa.

Rumah makan dan lesehan Joglo Dau tidak hanya menawarkan makanan khas Jawa Tengah yang enak untuk disantap, tetapi juga ornamen-ornamen seni rupa. Saat pengunjung datang, biasanya akan disambut oleh patung berpakaian adat Jawa yang seolah-olah mempersilahkan dengan ramah kepada pengunjung untuk masuk ke dalam Rumah makan Joglo Dau.
Patung di Rumah makan dan lesehan Joglo Dau

Sesampainya di depan gerbang Rumah makan Joglo Dau mata para pengunjung akan dimanjakan dengan berbagai pemandangan seperti lukisan, patung yang diukir, dan kolam ikan. Pengunjung yang hadir biasanya kisaran 200 orang dalam sehari.

Manajer operasional Nurul Soba mengatakan dalam mempertahankan kebudayaan saat ini, Rumah makan dan lesehan Joglo Dau tetap melestarikan cita rasa makanan dan kebudayaan Jawa.

"Karena kita di bidang kuliner, yang pasti rasa harus tetap terjaga. Dan juga untuk konsep awal memang Joglo Dau akan mempopulerkan atau melestarikan budaya Jawa. Awal mulanya memang dari Jawa Tengah, karena ownernya juga berasal dari Jawa Tengah," jelas Nurul saat diwawancarai Papyrus.
Pentungan yang digunakan untuk memanggil waiter

Joglo merupakan gaya bangunan khas jawa dan Dau merupakan nama tempat berdirinya Rumah makan Joglo Dau. Ada hal unik lain saat pengunjung ingin memesan makanan atau minuman, pengunjung biasanya memanggil waiter dengan memukul pentungan, hal ini dilakukan agar pengunjung bisa bernostalgia dengan nuansa Jawa pada masa lalu. (ben/eman)

No comments