Panik Covid-19, Mahasiswa Tetap Pulang Kampung



Spanduk yang dipasang warga untuk cegah covid-19 (Gambar: CNN Indonesia) 
Papyrus - Hanifudin Musa (19) Mahasiswa Kota Malang Universitas Tribhuwana Tunggadewi (Unitri) berhasil pulang kekampung halamannya di Madura. 

Namun ia harus menjalani beberapa pemeriksaan selama melalui perbatasan kota di beberapa terminal yang dilintasinya.

Pemeriksaan yang dilakukan ialah seputar pemeriksaan suhu tubuh dan kondisi kesehatannya. Setelah dinyatakan lolos, Hanif akhirnya diperbolehkan melanjutkan perjalanannya menuju Pamekasan atau Sumenep untuk menindaklanjuti penyemprotan Desinfektan.

Kepulangan dari Malang diawali menggunakan bus dari terminal Arjosari. Selanjutnya beristirahat diterminal Purabaya/Bungurasih setelah itu menuju perbatasan Sumenep.

"Selama di terminal itu saya menjalani pemeriksaan tiga kali, seperti pemeriksaan suhu tubuh, cek kondisi kesehatan dan penyemprotan desinfektan," ungkap Mahasiswa semester 4 tersebut, ketika dihubungi papyrus via whatsapp pada Selasa, (31/3).

Hanif mengaku setelah tiba di rumah, Ia harus melanjutkan pelaporan untuk dikarantina selama 14 hari  mengantisipasi penyebaran covid-19. Setelah 14 hari pihak medis akan menindaklanjuti perizinan  untuk dapat berkumpul dengan keluarga.

"Sangat efektif yang dilakukan untuk mengantisipasi penyebaran virus corona  yang sedang mewabah, apa lagi saya datang dari wilayah yang terjangkit atau dalam zona merah, hal itu dirasa perlu sehingga penularan tidak terjadi," jelasnya.

Hanif berpesan kepada para perantau agar tetap mengikuti saran pemerintah untuk menjaga kesehatan.

"Hindari perkumpulan dan alangkah lebih baiknya jangan keluar rumah atau kos-kosan. Untuk teman-teman yang ingin pulang segera memeriksa kesehatan sebelum berangkat, jika teman-teman memaksa pulang kampung," tuturnya.

Ada juga beberapa mahasiswa yang merasa panik setelah melihat temannya pulang kampung. Salah satunya Irene Tey Seran, Mahasiswa Ilmu Komunikasi, tersebut menganggap bahwa Covid19 bukan sebagai kepanikan namun kesedihan, Ia harus menjalani hari-hari di kos sendiri, dikarenakan banyak temannya yang pulang kekampung halamannya masing-masing.

"Saya panik karena teman saya pada pulang semua, di kos saya merasa sepi. Hal tersebut yang membuat saya panik ingin pulang, bahkan untuk keluar kos saja saya juga takut, menerima teman lain masuk juga sudah tidak di perbolehkan," ungkapnya.

Dalam situasi kepanikan karena sendirian, Irene memutuskan untuk tidak melanjutkan pulang kampung  mengingat jaringan di kampung sedikit tidak bersahabat, sehingga Ia takut tidak 
mendapatkan informasi dari kampus.

"Saya sempat berfikir juga pulang kampung memang enak, tapi setelah sampai di kampung akan banyak kendala yang saya rasakan terutama jaringan yang kurang dan informasi juga saya akan ketinggalan," imbuhnya. (Bolyn, Yanis, Epak)

No comments