Pasang Surut Gerakan Perempuan Di Indonesia


Cut Nyak Dhien, Salah Satu Pahlawan Perempuan Nasional
Papyrus - Perempuan acapkali menjadi bumbu perbincangan hangat dikalangan masyarakat. Perempuan seringkali dijudge sebagai makhluk yang lemah dan tidak berdaya.

Oleh karena itu, perempuan perlu mengkamuflase gerakan-gerakan yang membuat dia terkungkung dan tenggelam di zona yang nyaman. Sehingga mempunyai  kepedulian terhadap lingkungan sosial lebih-lebih kepada penindasan yang terjadi di negara kita.

Perempuan perlu melawan lebih karena perempuan seringkali dijadikan instrumen politik oleh oligarki yang hanya mempunyai kepentingan akan perutnya sendiri. Gerakan tersebut bisa dimulai dengan Bercermin ulang terhadap historis gerakan perempuan tempo dulu untuk membangkitkan gelora yang sedang pudar dalam jiwa perempuan masa kini.

Perempuan di zaman lalu, mengukir  ladang peradaban seperti pada masa-masa imprealisme barat (sebelum 1945). Pada masa itu, muncul tokoh-tokoh perempuan di daerah-daerah yang aktif melawan penjajah untuk meraih kemerdekaan.
Misalnya, di Aceh ada Cut Nya Dien (komandan perang Aceh) dilanjutkan perjuangan Cut Mutia. Ratu Sima (618) menjadi pemimpim perempuan yang jujur di Jateng,  juga RA Kartini yang kita kenal sebagai tokoh emansipasi perempuan Indonesia.
 
Gerakan perempuan yang ada di Indonesia ini merupakan bukti bahwa perempuan juga bisa ada di garda perlawanan dan tidak ada alasan bagi perempuan untuk tidak bangkit dari keterpurukannya.

Hal tersebut juga terbukti pada perempuan-perempuan di era milenial  yang ada di panggung politik Indonesia. Contohnya Khofifa Indra Parawansa sebagai Gubernur Jawa Timur telah membuktikan kapasitasnya sebagai pemimpin perempuan pertama di Jawa Timur. Ada juga Tsamara Amani sebagai politikus muda di Partai Solidaritas Indonesia (PSI).

Jika kita kembali ke masa lampau banyak tokoh-tokoh pergerakan di Indonesia yang mempunyai jiwa perlawanan. Jadi kalo perempuan hanya dikatakan berguna di sumur, dapur dan kasur, itu hanyalah adagium belaka yang muncul di mindset  masyarakat setempat. 

Jadi mari kita hilangkan pola pikir yang seperti itu sehingga bisa mengantarkan negara Indonesia sampai ke gerbang perubahan, atau bangkit dari keterpurukannya. perjuangan “hak perempuan” berlangsung di arena negara untuk meneguhkan identitas kewarganegaraannya secara otonom.

Meski, serta merta perempuan adalah warganegara Indonesia, namun demikian masih harus berjuang keras untuk memperjuangkan hak perempuannya sebagai warganegara yang sejajar dengan warganegara yang laki-laki. 

Dalam berbagai dukungan partai politik, organisasi mahasiswa turut serta mendekatkan isu perempuan ini dengan kebijakan negara, meski tetap ada soal perempuan yang secara umum tidak pernah didukung oleh partai politik beraliran Islam, yakni tentang poligami (poligini).

Sebagai catatan: tidak semua organisasi perempuan pasca-kemerdekaan melawan imperialisme (sebagai saudara kembar kolonialisme) sebagai akar penindasan perempuan.

Secara umum, ideologi politik yang dipeluk organisasi-organisasi perempuan sepanjang dekade 1950-1960an adalah Nasakom (nasionalisme-agamaisme-komunisme). Dari sini lahirlah organisasi baru sebut saja Gerakan Wanita Indonesia (GERWANI) meskipun ada yang tidak mengikuti pendirian ideologi-politik tersebut. 

Akan tetapi itu sebagai bukti perjuangan toko-tokoh pejuang dulu untuk mengangkat hak-hak perempuan yang seharusnya ia dapatkan sebagai warga negara Indonesia.
Tapi lagi-lagi gerakan perempuan di indonesia ini mengalami stagnasi pergerakan karna terpropaganda oleh budaya kebarat-baratan di Eropa sana, sebut saja westernisasi. 

Disinilah perempuan Indonesia terjajah secara ideologi oleh barat sehingga tidak sadar akan peran dan fungsinya sebagai perempuan yang merupakan tiang negara atau sebuah pondasi bagi peradaban baru.

Perempuan seharusnya sadar akan itu apalagi sebagai pendidikan pertama bagi anak-anak nya dan akan melahirkan generasi baru bagi bangsa ini. 

Akan tetapi lagi-lagi perempuan indonesia masih menikmati ayunan-ayunan yang disuguhkan oleh barat contoh nya dari segi penampilan ala kebarat-baratan padahal seharusnya kita melestarikan budaya kita sendiri bukan melestarikan budaya barat yang membuat Indonesia tidak bisa maju satu langkah dari bumi perkemahannya.

Padahal kita sudah terjajah selama tiga abad setengah oleh barat masih saja tidak sadar akan itu. Di masa penjajahan perempuan yang terlahir dari rahim pribumi sangat dikekang seperti tidak merasakan nikmatnya pendidikan, karna orang-orang penjajah sadar ketika perempuan bisa sampai ke jenjang pendidikan maka dia akan melahirkan generasi-generasi pemikir baru untuk bangsa ini.

Karena orang barat juga yakin bahwa perempuan adalah rahim peradaban yang akan menuju ke perubahan Indonesia yang lebih progress dari yang sebelumnya. Jadi itulah yang ditakutkan oleh barat pada waktu itu, tapi sekarang itu menjadi kenyataan karna banyak perempuan-perempuan Indonesia yang mempunyai karier baik di dunia politik maupun pendidikan.

Sehingga tidak ada alibi lagi bagi perempuan untuk tidak bersaing dengan laki-laki karna bangsa ini sangat menunggu generasi muda yang terlahir dari rahim perempuan sebagai Tarbiyatul ula bagi bangsa ini.
Malang, 07 Januari 2020
     
*Opini ditulis oleh mahasiswa Ilmu Komunikasi Unitri  2019, M. Anwarul Hidayat.
  

No comments