Peringati HPN, KPS Ilmu Komunikasi Unitri Ungkap Keberadaan Pers

Fathul Qorib, S.I.Kom., M.I.Kom (kiri) saat ditemui Papyrus di Ruangan Laboratorium Komunikasi
Papyrus - Memperingati Hari Pers Nasional (HPN), Kepala Program Studi (KPS) Ilmu Komunikasi Fathul Qorib, S.I.Kom., M.I.Kom mengungkap keberadaan pers, saat ditemui Papyrus di Ruangan Laboratorium Komunikasi, Selasa (09/02/2021).

Fathul mengatakan, Pers Nasional di Indonesia diapresiasi oleh banyak negara-negara lain, karena pers Indonesia termasuk yang bebas. Dan juga banyak pakar yang mengatakan bahwa pers sekarang sedang berada dibawah sebuah situasi yang tidak menyenangkan.

"Ketika dia terlalu vokal, memang ngak ada ancaman secara resmi dari sebuah lembaga, tapi  para wartawannya ini banyak yang di ghosting, ghosting itu ibaratnya diungkap profilnya lalu di olok-olok atau dibully," pungkas Fathul yang juga merupakan mantan wartawan Cenderawasih Pos. 

Fathul juga menambahkan bahwa ada banyak sekali wartawan yang mendapatkan ancaman berupa surat kaleng.

"Kemudian banyak wartawan juga diancam menggunakan anonim dan surat kaleng. Surat kaleng disini maksudnya surat yang dikirim tanpa identitas pengirimnya," tuturnya.

Akan tetapi Fathul mengatakan bahwa seorang pers yang profesional, tidak boleh takut akan hal tersebut.

"Sebagai orang-orang pers yang profesional kita tidak boleh takut dengan kondisi semacam itu, karena sudah adanya MoU dewan pers dengan lembaga penegak hukum, hanya saja perlu dipertegas lagi agar para wartawan tidak takut ketika memberitakan," ucapnya.

Fathul juga mengatakan tugas seorang wartawan itu berbahaya, namun masih ada wartawan yang tidak menjalankan tugas tersebut, dan seharusnya wartawan itu bisa mengimbangi antara kebutuhan dimasyarakat dan pemerintahan.

"Misalnya wartawan lokal didaerah atau nasional yang setiap hari liputannya berkaitan dengan ekonomi, berkaitan dengan pemerintahan yang selalu mengawal presiden atau selalu mengawal Walikota/Bupati Gubernur itu biasanya pekerjaan-pekerjaan yang aman," jelas Fathul.

Wartawan seperti demikian biasanya akan tidak memperdulikan lagi terkait hak masyarakat.

"Jadi saya sebagai akademisi khawatir bahwa wartawan semacam ini yang terus liputan mengawal para pejabat daerah itu kemudian abai terhadap hak-hak masyarakat," tambahnya.

Fathul yang juga pernah menjadi wartawan Malang Voice berpesan bahwa seorang wartawan dalam kondisi apapun harus selalu ingat prinsip pertama pers ialah mengakomodasi kepentingan masyarakat.

"Pesan saya bahwa, semua wartawan dalam kondisi apapun harus selalu ingat bahwa prinsip pertama dari pers itu adalah membela masyarakat, orang lemah, membela rakyat itu yang selalu diingat. Dan dia harus  selalu ingat tugas utama pers adalah mengawal kebenaran, selalu mengakomodasi kepentingan masyarakat," ujarnya.

Fathul juga berpesan kepada Lembaga Pers Mahasiswa, khususnya Papyrus agar selalu menulis berita.

"Kita ini organisasi pers, organisasi pers ya harus bikin berita, jadi wajib hukumnya bikin berita. Maka semua anak pers kampus terutama LPM Papyrus harus menulis berita dikoordinir lagi dan disebarkan lagi semangat nulis beritanya," tutupnya. (Tesin/Diana/Rinda)

No comments