Rumah PKD Tlogomas Dekat Warga, Yuliwati : Tak Pernah Ada Komplain

Pegawai Rumah PKD Tlogomas sedang bekerja
Papyrus - Pengurus Rumah Pilah Kompos Daur Ulang (PKD) Tlogomas Yuliwati, mengungkapkan bahwa selama mulai bekerja pada awal 2017 lalu, dirinya belum pernah mendapat keluhan dari warga setempat mengenai bau yang timbul dari sampah yang diolah, Kamis (22/4/2021).

Meski tempat pengolahan sampah ini berdekatan langsung dengan rumah warga dan kampus Universitas Tribhuwana Tungggadewi (Unitri) Malang Yuliwati mengaku selama ini dirinya belum pernah mendapat keluhan secara langsung dari warga sekitar.

Pengurus Rumah PKD Tlogomas, Yuliwati selesai diwawancarai
"Kalau waktu musim hujan itukan bau, karena nasi yang basi itu jadi lebih basi lagi, kadang-kadang dapat teguran, tapi tidak pernah didatangin secara langsung, memang inikan tempat pembuangan sampah jadi pasti mereka tahu," ungkapnya ketika ditemui diruang kerjanya, Rabu (21/4/2021).

Sampah yang dikelolah di TPS ini, berasal dari Sembilan RW di Tlogomas, yang terdiri dari RW satu sampai RW sembilan.

Sedangkan pegawai yang dipekerjakan di TPS ini berjumlah empat orang, dengan status sebagai Pegawai Tidak Tetap (PTT). Sedangkan untuk PNS diminta untuk menyapu dijalan.

"Jumlahnya ada empat orang PTT semua. Jadi PNS-nya banyak yang nyapu dijalan, karenakan PNS itu tuntutan kerjanya harus bersih," tambahnya.

Yuliwati juga menambahkan bahwa TPS tempatnya bekerja ini fungsinya adalah untuk mengurangi timbunan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

"Disinikan tujuannya untuk mengurangi timbunan sampah di tempat pembuangan akhir, jadi disini banyak sudah pengurangannya," ungkapnya lagi.

Dia juga manambahkan bahwa sampah-sampah seperti palstik, botol kaca, botol palstik, beling, kardus koran dan kertas A4 kembali mereka olah. Sedangkan sampah organik dijadikan sebagai pakan ternak warga dan juga dijadikan sebagai pupuk.

"Jadi disini itu banyak sudah pengurangannya, botol kaca, botol palstik, beling, kardus, kertas A4 itu diambil, koran diambil, residunya itu cuma pempres sama batu, yang organiknya banyak yang minta untuk pakan ternak, jadi kita lakukan semaksimal mungkin untuk pengurangan, karena memang tujuan kita adalah pengurangan," tutupnya. (Alex)

Tidak ada komentar