Peringati Hari Buku Sedunia, Dosen Komunikasi Unitri Ungkap Makna Hari Buku

Dosen Komunikasi Unitri, sekaligus penulis buku Latif Fianto
Papyrus - Peringati hari buku sedunia, Latif Fianto salah seorang penulis buku sekaligus dosen Program Studi (Prodi) Ilmu Komunikasi Universitas Tribhuwana Tunggadewi (Unitri) Malang, menyampaikan terkait makna Hari Buku Sedunia, Jumat (23/04/2021).

Dalam hal ini buku merupakan salah satu  sumber pengetahuan, buku memberikan pengaruh yang besar dalam membentuk konstruksi pikiran.

Buku juga merupakan salah satu sumber pengetahuan yang berperan besar bagi manusia. Kita dapat mengetahui sejarah di masa lampau karena sejarahnya ditulis di buku. Banyak juga media lain yang memiliki peran dalam kehidupan manusia, tetapi buku merupakan alternatif yang baik.

Latif Fianto, seorang penulis buku mengungkapkan bahwa buku merupakan salah satu sumber pengetahuan, buku juga yang memberikan pengaruh besar dalam konstruksi pikiran manusia.

"Bagi saya buku adalah salah satu yang bisa menjadi sumber pengetahuan," ungkapnya.

Latif juga menambahkan bahwa kita tidak akan tahu peradaban pada 72 ribu tahun lalu, jika itu tidak dituliskan di buku.

"Bagi saya pribadi, karena saya bukan lahir di 14 abad yang lalu atau 300 tahun yang lalu, atau 72 ribu tahun yang lalu, tentu saja warisan-warisan mereka yang hidup di tahun itu tidak bisa kita baca dan tidak bisa kita ketahui. Karena itu pengetahuan tentang peradaban mereka itu dapat kita ketahui dari buku," tambahnya.

Sebagai seorang penulis buku, Latif Fianto juga mengatakan bahwa ada hambatan dalam penulisan buku.

"Tentu saja banyak kendala. Kendala utama itu adalah ketika misalnya  kita ingin menulis, tetapi kita tidak tahu apa yang ingin kita tulis," ucapnya.

Untuk mengatasi hal itu, Latif mengatakan bahwa harus banyak membaca, dikarenakan makanan seorang penulis adalah membaca.

"Untuk mengatasinya tentu saja dengan membaca buku, seberapa banyak kita membaca, karena bagaimana orang mau baca tulisan kita kalau kita tidak pernah membaca tulisan orang sekecil apapun itu,” ujarnya.

Latif juga mengatakan, ada dua tipe orang membaca buku, yakni membaca karena ada tujuannya, misalnya untuk memperoleh atau menggali data, dan membaca untuk menambah wawasan.

"Orang membaca itu ada dua tipe. Satu, dia punya motif, dia membaca untuk mendapat atau memperoleh data-data, sehingga dia kayak menghafal. Kedua, tipe pembaca yang kalau membaca buku dia ingin menggembangkan gagasannya,” ucapnya.

Selain itu, Latif menambahkan bahwa kunci menjadi seorang penulis adalah menulis, tidak hanya sekadar ngumpul bareng penulis.

"Untuk menjadi seorang penulis ya harus menulis. Satu-satunya jalan yang harus ditempuh adalah menulis. Misalnya dia ingin menjadi penulis, dia hanya ngumpul-ngumpul bareng penulis, kalau hanya kumpul ya tidak bisa, harus nulis, apapun itu," tegasnya.

Latif menyampaikan harapannya untuk penulis yang baru memulai karyanya agar berani memulai, jangan minder atau merasa tidak bisa, jadi segala sesuatu harus dimulai dengan keberanian.

"Sebagai seorang pemula harus berani, harapan itu ada ketika kita menulis, maksudnya adalah ketika kita tidak menuliskan draf tetapi ingin menjadi seorang penulis ya tidak bisa. Selama kita tidak menulis apa-apa ya kita tidak bisa berharap apa-apa, oleh sebab itu harus dimulai saja, tulisan apapun itu, esay, novel atau fiksi yang lain," harapnya. (Tesin/Shela)

Tidak ada komentar