PMKRI Komisariat Kanjuruhan Adakan Diskusi, Angkat Tema “Teologi Pembebasan”

Diskusi PMKRI Komisariat Kanjuruhan, di Jln Supriadi gang 1A
PapyrusPerhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Komisariat Kanjuruhan adakan diskusi dengan tema "Teologi Pembebasan", bertempat di Kempuh, Jln Supriadi gang 1A, Jumat (23/04/2021).

Dikusi ini dihadiri oleh 4 komisarit untuk mereview dan mempertajam mengenai bagaimana materi dipahami lebih spesifik dari pendidikan berjenjang, pada saat Masa Bimbingan (Mabim) kemarin  yang bahasannya  belum dituntaskan.

Yohanes Wibowo sebagai pemateri mengakui  bahwa mereview kembali materi Mabim dikarenakan banyak permintaan dari anggota dan kebetulan dia sendiri yang memberikan materi ketika Mabim, sehingga harus didiskusikan kembali pendidikan formalnya.

Wibowo menjelaskan teologi pembebasan adalah inspirasi mengenai peran teologi dalam konteks kemasyarakatan. Bagaimana keterkaitan agama dalam melihat kondisi sosial masyarakat, makanya disebut teologi pembebasan juga teologi kontekstual.

“Jadi kita melihat jelas kondisi masyarakat disaat ini dengan  situasi yang ada sehingga itu bagian dari cara untuk berteologi untuk kemasyarakatan,” jelasnya saat ditemui Papyrus, Kamis (22/4/2021).

Wibowo melanjutkan, PMKRI sebuah perhimpunan kaderisasi perjuangan yang harus mampu untuk melihat situasi dalam masyarakat.

“PMKRI adalah perhimpunan mahasiswa Katolik Indonesia yang hanya selama ini, melihat tentang wacana. Keadaan dilihat dari pandangan-pandangan akademis saja. Hal itu dapat memperluas jangkauan. Melihat keterbatasan sesungguhnya dalam masyarakat dan terlibat di dalamnya,” tambahnya.

Yohaneas Paulus S.Ola sebagai ketua Komisriat Kanjuruhan sekaligus peserta diskusi menanggapi materi teologi pembebasan  tersebut.

“Rasanya mau memperdalam, dengan tujuan  meningkatkan pemahaman di kader yang baru selesai Mabim dan untuk menambah wawasan senior-senior. Sehingga hari ini kami mendatangkan Wibowo sebagaimana lebih memperhalus lagi, karena banyak hal yang menjadi kejanggalan dari pemahaman kader yang belum sampai dan mencoba untuk memahami, tetapi dengan pemikiran sendiri,” ungkapnya.

PMKRI tidak boleh tertutup terhadap keadaan terutama keadaan sosial di masyarakat, karena disana banyak hal yang terjadi sementara kita tidak tau tentang kondisi itu makanya mereka harus peka terhadap kondisi di masyarakat saat ini.

Yohanes berharap agar materi yang telah diberikan mudah dipahami agar tidak sia-sia. Karena dalam organ pergerakan materi langkah praktis dan lain-lain harus bisa dijalankan.

“Kalau materi tidak dipahami bagaimana langkah praktisnya, gerakannya, sehingga lebih ditekankan pada pemahaman kader sendiri ketika mendapatkan materi yang diberikan,” harapnya. (Erna)

Tidak ada komentar