Kain Tenun Ikat Jadi Keterampilan Utama Kaum Perempuan Di Kabupaten Belu, Simak Penjelasannya

Bentuk Kain Tenun Ikat Kabupaten Belu

Papyrus - Tenun ikat merupakan salah satu keterampilan kaum perempuan Kabupaten Belu. Motif yang digunakan terdiri dari tiga macam antara lain Tais futus (Tenun Ikat), Tais fafoit (Tenun Sulam), Tais Talik (Kain Ikat), Minggu (23/05/2021).

Usaha Tenun yang dilakukan oleh kaum perempuan Belu ini masih menggunakan alat tradisional. Namun tidak menjadi alasan untuk menyelesaikan sehelai kain.

Sesuai dengan jenisnya kain tenun ini terdiri dari sepasang kain untuk laki-laki dan perempuan. Kain laki laki disebut dengan “Tais Mane”, sedangkan kain perempuan disebut dengan "Tais Feto".

Berdasarkan statusnya kain tenun daerah ini ada yang dipakai untuk pesta resmi atau acara resmi, ada yang dipakai ibu-ibu di daerah Belu. Kain tenun ini dijual untuk membantu meningkatkan ekonomi keluarga dengan harga sesuai jenisnya masing masing.

Kain tenun ikat mempunyai harga masing masing antara lain kain futus (kain ikat) laki-laki dijual dengan harga Rp. 500.000, kain fafoit (kain sulam) laki-laki dijual dengan harga Rp. 250.000, dan tenun ikat (Tais talik) Rp. 1.500.000. Sedangkan untuk kaum perempuan, kain tutus Rp. 250.000, kain fafoit Rp. 150.000, dan kain sulam (tais talik) Rp. 150.000.

Pengrajin Wihelmina menjelaskan untuk menghasilkan jenis jenis kain membutuhkan waktu yang tidak sama. Ada yang diihabiskan dalam seminggu, ada yang sampai satu bulan. Yang paling gemar bagi Wihelmina adalah kain ikat, dan jenis kain yang bukan digemari oleh masyarakat belu saja, tetapi oleh wisatawan asing
Yang berkunjung ke Belu.

Menurut Wihelmina menenun adalah kehidupan untuk
mengais rezeki sekaligus upaya melestarikan budaya adat setempat. Ia mengaku kemampuan menenun pun didapatnya dari sang Ibu. Dalam satu bulan ia mampu menjual 30 sampai 50 helai kain .Bahkan tak jarang mendapat pesanan dalam jumlah banyak dari Negara Timor Leste.

“Dengan menenun saya bisa membantu perekonomian keluarga. Dalam satu bulan saya bisa menjual 30 sampai 50 helai tais Belu. Keuntungannya sangat membantu perekonomian keluarga. Semoga makin sering kami para pengrajin diajak untuk memamerkan hasil tais
Belu kami, sehingga makin banyak wisatawan yang mengenal Tais Belu," ungkapnya.

Lanjut Wihelmina, kain tenun ini bukanlah kain biasa. Tais Belu memiliki fungsi kuat dalam kehidupan adat masyarakat Atambua. Dari mulai dari keperluan mas kawin, peata, dan acara kematian.

"Semoga kain adat belu semakin digemar oleh para wisatawan yang berkunjung ke Belu, serta masyarakat yang berada di daearah lain bisa mendatangi daerah Belu," tutupnya. (Priskila)

Tidak ada komentar