Simak! Begini Tanggapan Dosen Prodi Komunikasi Terkait Disiplin Ilmu Komunikasi


Fathul Qorib, Saat ditemui Wartawan Papyrus di Lab Komunikasi Unitri

Papyrus
Salah satu Dosen Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Tribhuwana Tunggadewi (Unitri) Malang, Fathul Qorib, S.I. Kom., M.I.Kom menjelaskan terkait disiplin Ilmu Komunikasi yang patut dipahami, Jumaat (07/05/2021).

Saat di jumpai wartawan Papyrus di Lab Program Study Ilmu Komunikasi, Fathul Qorib, S.I. Kom., M.I. Kom menjelaskan bagaimana seharusnya disiplin komunikasi itu patut dan perlu dipahami.

“Program Studi Ilmu Komunikasi itu, karena masuk dalam Fakultas Ilmu Sosial, masuk dalam Ilmu Sosial, jadi sebenarnya kita itu lebih ke-analisis praktis, jadi kita lebih ke-analisisnya, itu untuk mahasiswa strata satu,” jelasnya.

Fathul juga menuturkan dalam jenjang pendidikan strata satu, yang dituju Mahasiswa merupakan pemahaman ilmu pengetahuan atau pemahaman teori disiplin ilmu yang digeluti. Sedangkan untuk tataran parksisnya mahasiswa strata satu belum sampai pada tahap itu.

“Sebenarnya yang kita tuju dalam kuliah strata satu itu adalah pemahaman terkait dengan ilmu pengetahuan, jadi yang mengarah ke-parktisnya seharusnya masih belum,” tuturnya.

Di samping itu, dalam perkembangannya, Ia mengaku memang perlu memperhatikan beberapa hal ketika mahasiswa  mulai kuliah, karena mahasiswa mempunyai target-target yang ingin di capai dalam perkuliahan. Serta akan rumit apabila  menilai sejauh mana pemahaman  mahasiswa terhadap teori ilmu komunikasi.

“Lebih lanjut, kita harus memperhatikan beberapa hal ketika mahasiswa itu kuliah, karena ada beberapa target juga, kalau targetnya adalah pengetahuan, kaya pemahaman mahasiswa, itukan memang agak rumit untuk dinilai, bagaimana cara menilai kalau mahasiswa itu memang mengerti akan teori ilmu komunikasi,” ungkapnya.

Berkaitan dengan pemahaman, Fathul Qorib membenarkan pemahaman masyarakat awam tentang ilmu komunikasi, yaitu mahasiswa ilmu komunikasi pintar berbicara atau punya kemampuan dalam public speaking. Dia menukaskan public speaking salah satu kompetensi yang harus dimiliki oleh mahasiswa Ilmu komunikasi .

"Salah satu kompetensi, ketika kalian masuk menjadi mahasiswa ilmu komunikasi, yaitu kompetensi public speaking,” pungkasnya.

Selain itu Fathul menerangkan, harus mampu menyeimbangkan kemampuan akademis mahasiswa dengan kemampuan praktisnya karema kemampuan akademis itu berkaitan dengan mata kuliah umum.

“Seperti ketika semester satu ada mata kuliah pengatar ilmu komunikasi, pengantar ilmu sosial, pengantar ilmu politik, pengantar ilmu hukum, itu adalah asas-asas fondasi yang fundamental untuk mahasiswa ketahui. Lalu di semester dua akan ada teori komunikasi, komunikasi antar kelompok, komunikasi antar pribadi, komunikasi organisasi, nanti sampai pada psikologi komunikasi, komunikasi multikultural, itu semua adalah konsep-konsep yang harus dipahami oleh mahasiswa ilmu komunikasi,” terangnya.

Konsep-konsep seperti  ini pada perkembangannya akan mengembangkan suatu tradisi pemikiran yang kritis dan holistik. Hal ini  nantinya akan membantu mahasiswa dapat melihat segala persoalan dengan pikiran yang analitis-sistematis dan tidak parsial.

“Nantinya konsep ini akan mengembangkan tradisi pemikiran yang kritis-holistik, jadi mahasiswa bisa dengan kritis melihat kondisi masyarakat, akan tetapi tidak parsial melainkan dia holistik, jadi mahasiswa akan memiliki sudut pandang pemikiran yang luas dan cenderung untuk tidak cepat menyalahkan, itu harapan kita,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan, disiplin ilmu komunikasi sangat tidak dapat dilepaskan dari tataran parksisnya, hal ini membuat displin ilmu ini beberapa tahun yang lalu hendak dikeluarkan dari disiplin ilmu sosial dan dipindahkan pada disiplin ilmu ke-teknikan.

“Program Studi Ilmu Komunikasi itu, pada tahun 2015 atau 2017-an, pernah mau dikeluarkan dari rumpun ilmu sosial dan mau dimasukkan kedalam rumpun ilmu keteknikan, karena keparktisan ilmu ini, keparktisan itu tampak misalnya pada mata kulaih teknik penyiaran, teknik jurnalistik, teknik pembuatan film, jadi kelihatan parktis sekali disiplin ilmu kita,” katanya saat di jumpai wartawan Papyrus.

Fathul Qorib menambahkan, hal tersebut ditolak oleh ASPIKOM (Asosiasi Pendidikan Tinggi Ilmu Komunikasi) dengan alasan bahwa ilmu komunikasi tidak semuannya merupakan ilmu yang praktis akan tetapi hanya sebagiannya saja yang praktis. Ia juga mengharapkan kepada mahasiswa kosentrasi Jurnalistik untuk memiliki sikap yang kritis, Independen dan objektif serta  memupuk skil di bidangnya sendiri.

“Makanya sebagai anak jurnalistik selain kita memiliki sikap kritis, independen, objektif, berbarengan dengan itu juga sekaligus harus bisa nulis berita yang bagus harus mampu memahami kerja kamera, begitu juga untuk teman-teman TV-Film, selain bisa bikin film yang bagus, mereka juga harus mengerti tentang teori film dan sejarahnya, demikian juga untuk teman-teman PR, harus mampu membangun citra, yang itu adalah citra substansif, jadi akademis dan praktisnya harus sama-sama berjalan,” tutupnya. (Alex Dejesus)

Tidak ada komentar