Kisah Salah Satu Mahasiswa Unitri Malang di Balik Ketertarikan Jadi Film Maker

Benaya, (Baju Hitam) Saat Melalukukan Proses Shooting Salah Satu Film Pendek

Papyrus - Ketertarikan Benaya Mahasiswa Unitri Malang pada dunia film sudah ada sejak usia 8 tahun. Saat itu, menurut dia demi menonton film harus rela berjalan agar bisa melihat film, Selasa (08/06/2021).

“Ternyata kekuatan film sangat besar sekali hingga orang-orang rela mengunjungi rumah yang ada televisi nya. Dan sejak SD saya sudah diajak sama orang tua untuk menonton film,” kata Benaya dalam wawancara pada Minggu (6/6/2021).

Seperti yang dijalani oleh seorang pria bernama Benaya Ryamizard Harobu mahasiswa Ilmu Komunikasi konsentrasi jurnalistik Universitas Tribhuwana Tunggadewi Malang. Asal Desa Karita, Kecamatan  Tabundung, Kab. Sumba Timur. Pria yang akrab disapa Ben ini telah menekuni hobi film sejak Tahun 2019 lalu

Meski terbilang baru dalam dunia Film, ada gema sejarah yang memantul dalam menjalankan profesi tersebut. Menurut benaya, profesi film sangat tidak linear dengan konsentrasinya. Selain itu juga Benaya menuturkan harus rela berpisah dari teman karib dan melepaskan diri dari keterikatan instansi yang mengikat demi tercapainya satu tujuan

"Dulu saya organisatoris. Saya juga atlet taekwondo dari kelas 2 SMP dan pernah menjuarai di tingkat kabupaten. Sampai kuliah pun saya ikut itu, tapi semenjak saya di film saya melepaskan semuanya. Teman-teman hilang semua dan saya pun juga menghilang karena saya ingin fokus," katanya.

Meski harus rela kehilangan profesi yang sudah dipupus sedari kecil serta teman karibnya, Benaya tidak patah semangat dan tumbang didalam memulai karier barunya.

Selanjutnya Benaya mulai mengejar impiannya untuk membuat film dan mencoba diikut sertakan dalam festifal lomba filem  meski sering gagal menyandang juara.

Hal tersebut tidak menjadi penghalang kesemangatannya. Bertubi-tubi kegagalan menimpa, ada kemenangan yang rertunda mengiringi langkah  hingga pada 2020 lalu  Benaya berhasil menjuarai film pendek semalang raya yang diadakan oleh IMIKI

“Tapi saya enggak putus asa dan bikin film pendek sendiri dan akhirnya dapat kesempatan menang juara 3 film pendek dengan film layar lebar, film pertama saya," tutur Benaya.

Disamping itu, dalam penjelasannya, perjuangan Benaya untuk menjadi seorang film maker juga kembali terbentur lantaran mahasiswa timur sedikit sekali menekuni dalam dunia film.

Mahasiswa Timur khususnya Unitri lebih dikenal sebagai pembuat onar, stigma negatif bikin rusuh selalu muncul karena kerusuhan-kerusuhan yang diperagakan.  Akhirnya, dia memutuskan untuk memfokuskan pada satu bidang dan ingin mengangkat stigma tersebut bahwa tidak semua mahasiswa timur suka bikin onar.

"Saya ingin membuktikan kepada dunia bahwa kita juga bisa bersaing dan bisa mengesplorasi film-film bernuansa timur kepada dunia entah dengan pemilihan aktornya dari mahasiswa timur intinya khas timur juga ada", ungkapnya.

Karya yang sudah di hasilkan saat ini berjumlah 26 film dari berbagai sudut cerita dan durasi waktu yang tak sama. Menurutnya pekerjaan ini dijadikan hobi karena dengan film bisa menyampaikan pesan efektif kepada masyarakat.

"Kekuatan film bisa mengubah prilaku seseorang. Orang bisa menangis gara-gara film. Orang bisa tertawa gara-gara film. Semua bisa dilakukan dengan film. Semoga dengan film bisa merubah stigma negatif serta bisa mempersuasi penonton dan saya pun lebih maksimal dalam membuat film," tutupnya. (Hanif)

Tidak ada komentar