Peran Perguruan Tinggi Mengelaborasi Kesetaraan Gender



Salah satu peran yang sangat aktif untuk diimplementasikan dalam lingkungan Perguruan Tinggi ialah tentang pembahasan akan kesetaraan gender. Kesetaraan gender dikenal juga sebagai keadilan akan pandangan bahwa semua orang, baik laki-laki dan perempuan harus menerima perlakuan yang setara dan tidak diskriminasi berdasarkan identitas gender mereka yang bersifat kodrati.

Berangkat dari paradigma feminisme yang sudah memiliki kajian mendalam, segala kesetaraan gender haruslah menjadi acuan dalam berbagai bidang. Secara umun, pengertian gender adalah perbedaan yang tampak antara laki-laki dan perempuan apabila dilihat dari nilai dan tingkah laku. Dalam Women Studies Ensiklopedia dijelaskan juga bahwa gender adalah suatu konsep kultural, berupaya membuat perbedaan dalam perilaku, mentalitas, dan karakteristik emosional antara laki-laki dan perempuan yang berkembang dalam masyarakat.

Dalam praktiknya, tujuan dari kesetaraan gender adalah agar setiap orang memperoleh perlakuan yang sama dan menerima rasa adil, baik dalam prospek ketika berada di tempat kerja, dan di lingkungan masyarakat. Perguruan Tinggi di anggap memiliki andil penting, lantaran seluruh komponen akal pikiran yang berbasis akan kesetaraan harus terus di dengungkan. Sering kali korban dari kekerasan berbasis gender ini terjadi kepada perempuan. Sering juga dianggap, bahwa perempuan adalah makhluk lemah dan tidak bisa melawan. Tentu ini menjadikan bahwa bahaya terjadi dimana saja, tidak menutup kemungkinan pelecehan dan bahkan sampai kepada tahap kekerasan seksual bisa terjadi di tempat terbuka.

Mahasiwa sebagai agent of change, yang memiliki basis ilmu pengetahuan mendalam, haruslah memiliki jiwa awareness (kesadaran) dalam mencermati kesetaraan gender. Untuk mendukung kesetaraan gender, tidak semata hanya mampu mengklasifikasikan laki-laki dan perempuan semata, namun harus adanya konten dan juga media yang mampu mengangkat isu dari ketidaksetaraan gender.

Beberapa konten tentang apa itu gender, bagaimana melakukan kesetaraan gender, dan meningkatkan kualitas SDM (Sumber Daya Manusia) yang bisa diterapkan dalam konten yang bisa diakses tidak hanya Mahasiswa namun juga masyarakat. Rasa malu bahkan takut untuk menceritakan kejadian yang tidak pantas lantaran terjadi pelecahan seksual haruslah memiliki tempat untuk dielaborasikan bahwa hal ini memiliki implikasi nyata yang bisa mengganggu siklus aktivitas sehari-hari setiap orang. Strategi konten dan juga edukasi secara konkret dari Mahasiwa, bisa mendorong agar tidak terjadinya sekat dan juga dinding Kampus yang seharusnya bersama dengan masyarakat dan menjadi bagian yang tidak terpisahkan akan segala akar permasalahan.

Langkah lain dari Mahasiswa ialah menjadi advokasi yang berintegritas, dalam pembahasan dan juga bimbangan akan pengetahuan gender, dengan mampu bekerja sama juga dengan beberapa instansi dari Pemerintah seperti, Komnas HAM, Komnas Perempuan. Dengan terjadinya konsolidasi, bisa dipastikan Kampus berani membuka diri, dan mampu menjadi pelopor yang berintegritas akan isu kesetaraan gender.

Penulis : Christian Yogi Flastio

2 komentar: