Aspirasi Belum Dijawab, Koalisi Mahasiswa Kembali Lakukan Advokasi

Diskusi antara DPM dan Koalisi Mahasiswa Unitri, di Sekretariat DPM Unitri

Papyrus - Aspirasi terkait Fasilitas Sekret Ormawa dan UKM, Fasilitas Wifi serta transparan Pendanaan Ormawa belum mendapat titik terang dari pihak kampus, Koalisi Mahasiswa Unitri kembali melakukan Advokasi ke Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM), di Sekretariat DPM Universitas Tribhuwana Tunggadewi (Unitri) Malang, Rabu, 15/06.

Setelah sebelumnya Koalisi Mahasiswa Unitri merupakan gabungan mahasiswa dari beberapa program studi melakukan advokasi terkait Fasilitas HMj,UKM, WiFi dan pendanaan Ormawa pada 8 Maret tahun 2022 lalu kepada pihak Kampus, Koalisi Mahasiswa Unitri ini merasa belum mendapatkan titik terang.

Hal ini kemudian membuat Koalisi Mahasiswa Unitri kembali melakukan advokasi kepada pihak kampus melalui Dewan Pendamping Mahasiswa (DPM).

Ketua Koordinator Koalisi Mahasiswa Unitri Wilfridus Ombe, mengatakan landasan mereka melakukan advokasi ke pihak DPM, yaitu karena tidak adanya tanggapan dari pihak kampus terhadap tuntutan yang pernah dilakukan, yaitu mengenai fasilitas sekret HMJ dan UKM,  fasilitas Wifi, dan pengunaan dana ormawa. 

"Terkait dengan alasan atau dasar sehingga kami melakukan advokasi ke DPM, yaitu karena memang aspirasi ini tentunya kami sudah sampaikan ke DPM bulan lalu, tetapi tidak adanya tindak lanjut dari pihak kampus, sehingga hari ini saya dan teman-teman koalisi kembali turun ke DPM dan menyampaikan 3 poin tuntutan kami yaitu fasilitas sekret HMJ dan beberapa UKM, fasilitas Wifi, dan transparansi keuangan ormawa," katanya. 

Advokasi ini diikuti oleh 8 orang perwakilan koalisi Mahasiswa Unitri, dan di sambut baik oleh pihak DPM serta akan mengkawal segala bentuk aspirasi dari Mahasiswa. Sejauh ini, belum ada hasil akhir atau keputusan dari DPM, karena pihak DPM harus berdiskusi dengan BEM dan Kemahasiswaan untuk menanggapi poin tuntutan dari Koalisi Mahasiswa tersebut. 

"Kami ada 7-8 orang yang advokasi ke DPM, dan merupakan perwakilan dari koalisi Mahasiswa unitri. Kedatangan kami disambut baik oleh pihak DPM, serta ada pernyataan dari mereka sendiri bahwa siap mengkawal segala bentuk aspirasi dari Mahasiswa. Memang setelah kami menyampaikan poin tuntutan, dari pihak DPM belum ada keputusan, tetapi mereka memberikan estimasi waktu satu minggu, untuk kembali bertemu dan mendengarkan jawaban dari hasil rapat antara DPM, BEM, dan Kemahasiswaan," tambah Wilfridus.

Sekretaris Umum DPM Mohamad khoirurrohman menyampaikan, dari pihak DPM sangat mengapresiasi kedatangan Koalisi Mahasiswa dan siap mengkawal atas tuntutan terhadap pihak kampus. 

"Saya perwakilan dari pihak DPM, kami sangat mengapresiasi dan mendukung mengenai tuntutan yang disampaikan oleh teman-teman koalisi mahasiswa atas advokasinya tadi siang, dan kami dari pihak DPM siap mengkawal aspirasinya," ucapnya.

Diketahui  tuntutan yang dilakukan oleh Koalisi Mahasiswa ini, bukan merupakan yang pertama tetapi sudah yang keempat kalinya. Dari pihak DPM akan menindaklanjuti aspirasi tuntutan dari Koalisi Mahasiswa Unitri, yaitu dengan mengadakan rapat koordinasi bersama BEM dan kemahasiswaan.

"Kemarin pada 9 maret mereka melakukan advokasi ke DPM, dengan poin tuntutan yang sama. Tetapi karena belum mendapatkan jawaban yang puas, makanya mereka melakukan advokasi lagi hari ini.  Kita dati pihak DPM, akan tetap menindaklanjuti sesuai dengan sistematikanya, yaitu kita akan diskusi bersama BEM dan kemahasiswaan dan kita lanjut setelah final. Setelah itu, BEM  akan mengadakan pertemuan dengan Wakil rektor 2," lanjut Mohamad.

Mohamad juga berpesan kepada Koalisi Mahasiswa agar tetap mengkawal dan kritis dalam melihat kebijakan kampus. Karena saat ini, kampus lebih fokus terhadap infrastruktur pembangunan dari pada fasilitas dan kenyamanan untuk mahasiswa. 

"Pesan saya untuk teman-teman Koalisi Mahasiswa Unitri, tetap mengkawal hal-halkebenaran dan lebih kritis lagi dalam melihat kebijakan kampus. Karena kampus sekarang fokus terhadap infrastruktur pembangunan, tetapi lupa memberikan fasilitas kepada mahasiswa seperti sekret, wifi, dan transparansi uang ormawa yang dapat menghambat dan membuat mahasiswa merasa tidak nyaman," pesannya. (Beatriks Uta).

1 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.