Dra. Atfiah El Zam Zami, MM Pimpin Acara Silaturarahmi Antar Mahasiswa Asal Kalimantan Barat Di Malang

2 Comments
Lpm-Papyrus.com – Guna mempererat ikatan silaturahmi warga Kalimantan Barat, Ikatan Keluarga Kalimantan Barat (IKKB), berkunjung ke salah satu Asrama Mahasiswa Kayong Utara di Jl. Intan no. 13 Malang. Kamis (25/5).

Kunjungan tersebut diramaikan oleh mahasiswa asal Kalimantan Barat yang menempuh perguruan tinggi di Kota Malang, yang tergabung dari Kabupaten Pontianak, Sanggau, Sambas, Bengkayang, Singkawang, Sekadau, Mempawah, Landak, Ketapang dan Kayong Utara sebagai tuan rumah.

Kunjungan oleh IKKB ini dipimpin langsung oleh Dra. Atfiah El Zam Zami sebagai ketuanya, Atfiah menjelaskan pentingnya menjalin silaturahmi ini guna mempererat hubungan silaturahmi warga KALBAR, agar tetap menjaga nama baik KALBAR. “karena ini kerukunan, kita itu merekatkan hubungan silaturahmi warga KALBAR yang  bertempat tinggal di Malang, kami ini adalah penduduk Malang, tetapi kami ini asli dari KALBAR,  keinginan kita yang pertama silaturahmi, yang kedua kita membantu anak-anak KALBAR yang membutuhkan kami sehingga kami membuat seperti ini untuk menjaga nama baik kita KALBAR,” ujarnya pada papyrus.

Kunjungan silaturahmi ini dijadikan kegiatan rutinitas IKKB setiap bulannya. Afiah juga menyampaikan bahwa acara silaturahmi ini juga diisi dengan arisan setiap asrama yang bergabung sebesar Rp. 20.000 setiap pertemuannya agar setiap acaranya selalu banyak yang hadir, “setiap kunjungan silaturahmi ini, kami mewajibkan setiap asrama untuk mengikuti arisan sebesar Rp. 20.000 supaya dia tetap datang walaupun yang datang ramai, kami senang melihatnya” lanjut Afiah kepada papyrus. (SJ)

Ikatan Keluarga Belu Agendakan Baksos Di Kabupaten Belu

Add Comment
Lpm-papyrus.com - Ikatan keluarga Belu (IKABE) se-Kota Malang adakan pertemuan, guna membahas agenda Bakti Sosial (BAKSOS) ketika liburan bulan Juli nanti, di gedung serba guna Universitas Tribhuwana Tunggadewi (UNITRI) Malang, Kamis (25/5) kemarin.

Baksos ini akan diselenggarakan di Kabupaten Belu, khususnya di 3 wilayah yakni Kecamatan Raimanuk,  Kecamatan Lamaknen dan Kecamatan Nanet Dubesi. Pertemuan ini juga dihadiri oleh 6 Rayon yang tersebar di Malang,  yakni dari Rayon Blimbing,  Rayon Tlogo, Rayon ITN Satu dan Dua,  Rayon Sukun, dan Rayon Unmer.

Adapun 3 poin yang dikhususkan dalam Baksos ini yaitu Bidang Kesehatan, Pertanian,  dan Ekonomi. Karena tiga bidang ini bisa dikatakan masih belum berkembang dengan maksimal. "Saya berharap melalui kegiatan ini dapat membantu masyarakat di sana, khususnya di tiga bidang yang menjadi fokus kami", ungkap Piter Atok, ketua IKABE Malang dalam pertemuan siang tadi.

Selain Baksos yang akan dilaksanakan pada Bulan Juli nanti, IKABE Malang juga membahas salah satu agenda yang akan dilaksanakan pada tanggal 11 Juni 2017. Agenda tersebut yakni seminar wisata dan budaya tapal batas, dengan tujuan untuk promosi wisata dan budaya Kabupaten Belu Nusa Tenggara Timur (NTT), yang berbatasan langsung dengan Timor Leste.

Seminar ini akan dihadiri Pemerintah Kabupaten Belu (Pemda Belu), Dinas Pariwisata dan Budaya Kabupaten Malang, dan Putra Putri pariwisata Malang.

Sekertaris IKABE Malang, Didimus Kondi Parera mengatakan, budaya dan wisata  Kabupaten Belu harus dipromosikan. "Karena fokus pemerintah pusat saat ini ialah membangun daereh perbatasan, salah satunya Kabupaten Belu yang berbatasan langsung dengan Timor Leste", jelas Didi. (ros)

Hadirkan Para Pakar, Komunikasi Unitri Bedah Cara Tanggulangi Hoax

Add Comment


Lpm-Papyrus.com – Ada empat cara dalam menanggulangi berita hoax menurut Kepala Bidang Informasi Publik, Dinas Komunikasi dan Informasi (Diskominfo) Kota Malang, Budi Utomo, ketika seminar ‘Anti Berita Hoax’ dalam rangka Communication Festival, Program Studi Ilmu Komunikasi, Universitas Tribhuwana Tunggadewi Malang, Selasa (23/5).

“Cara pertama, adalah dengan mengetahui sumber berita itu dari mana. Apakah linknya sudah betul? Atau kalau sumber dari gambar dan video, harus dipastikan keduanya valid. Jangan mudah percaya. Cara kedua, dengan melihat website-nya. Jangan mudah percaya kalau web abal-abal, media mainstream saja bisa terjebak hoax kok,” papar Budi di hadapan mahasiswa Unitri.

Ia melanjutkan, cara ketiga untuk menanggulangi berita hoax adalah dengan mengecek narasumbernya. Menurut Budi, narasumber yang digunakan informasi hoax seringnya berupa nama yang anonim, atau nama yang tidak bisa dilacak keberadaannya. “Terakhir adalah dengan mengecek kapan berita itu diterbitkan, banyak hoax yang sudah terbit tahun lalu, diviralkan lagi seakan-akan baru terjadi,” imbuh lelaki asli Malang ini.

Selain Budi, Ketua Prodi Ilmu Komunikasi Unitri, Ellen Meianzi Yasak, juga memaparkan beberapa tips menghindari berita hoax. Ia lebih menekankan kepada psikologis pengguna gadget untuk tidak mudah percaya pada informasi. “Hoax banyak menyebar di media sosial karena media  sosial memiliki kemampuan yang memudahkan penggunanya untuk share, itu yang harus kita hati-hati,” jelas Ellen.

Lebih lanjut, calon mahasiswa doktor Universitas Indonesia ini memaparkan terkait perkembangan dunia internet di Indonesia yang menduduki nomor ke empat terbesar di dunia. Dari data yang didapatnya, sebanyak 88 juta warga Indonesia adalah pengguna internet. “Rata-rata pengguna internet ada di rentang usia 18 sampai 25 tahun. Mereka ini disebut digital native, Gen-Z, I-Net, atau Net Generation,” imbuhnya. (Fath)

Mahasiswa Unitri Belajar Mengkafani Janazah

Add Comment
Lpm-Papyrus.com - Mahasiswa Muslim Semester Empat Belajar Mengkafani Janazah di Masjid Margo Utomo, tepatnya di  Kampus Universitas Tribhuwana Tunggadewi (Unitri) Malang, Selasa (23/5). Praktik mengkafani janazah merupakan bagian dari mata kuliah Agama Islam yang wajib di tempuh oleh mahasiswa muslim Unitri. Praktik mengkafani  janazah ini termasuk pertama kali diadakan oleh mahasiswa semester empat.

Praktik mengkafani janazah ini juga merupakan persyaratan bagi mahasiswa semester empat untuk kemudian bisa mengikuti Ujian Akhir Semester. Praktik ini diadakan diluar jam mata kuliah, karena mengingat waktu yang di tentukan dalam mata kuliah kurang begitu maksimal. Aturan ini hasil dari kesepakatan antara dosen dan mahasiswanya.

Selain itu,  Fauzi selaku dosen pengampuh dari mata kuliah Agama Islam itu mengatakan, “mahasiswa harus mempunyai kemampuan dan keterampilan dalam hal mengkafani janazah, karena ini sangat penting dan ini pasti dibutuhkan ketika nanti mereka  terjun ke masyarakat. Maka dari itu, sebagai mahasiswa harus mempunyai kemampuan lebih”. Ujarnya

Ketika mahasiswa nanti sudah bisa dan paham terkait bagaimana cara mengafani janazah yang benar dan sesuai dengan syariat islam, maka akan di adakan  praktik selanjutnya, yaitu mengenai bagaimana cara memandikan dan menguburkan janazah, tambahnya.

Hedy Wiyono sebagai salah satu mahasiswa dari semester empat  juga sangat antusias dalam mengikuti praktik mengkafani janazah, karena selama ini ‘’saya tidak pernah belajar mensholati janazah, apalagi sampai  praktik mengkafani seperti ini’’. Hedy panggilan akrabnya, juga menambahkan, pria yang sangat kentara dengan logat maduranya itu ‘’saya sangat bersyukur masih bisa belajar, seandainya saya tidak kuliah kemungkinan saya tidak tau apa-apa mengenai hal ini sambil menutup obrolannya. (icol)

Ellen: "Kehormatan Jurnalis Dipertaruhkan Saat Akan Memposting Berita"

Add Comment
Lpm-papyrus.com - Ellen Meianzi Yasak selaku pemateri dalam Seminar "Awas Berita Hoax" mengupas tuntas soal berita hoax, termasuk peran seorang jurnalis sebagai penulis berita. Seminar yang merupakan rangkaian acara dari Communication Festival dalam Dies Natalis  Prodi Ilmu Komunikasi yang ke-12 ini diadakan di di Gedung Olah Raga (GOR) Universitas Tribhuwana Tunggadewi Malang, Selasa (23/5).

Dia menekankan pentingnya seorang jurnalis dalam menjunjung tinggi kebenaran dalam menulis berita. "Jangan pernah main-main dengan kebenaran, kehormatan jurnalis dipertaruhkan saat akan memposting berita. Kejujuran dalam menulis berita adalah peringkat paling atas dalam jurnalistik" ungkapnya. Ellen juga menambahkan pentingnya netralitas dalam menulis berita, tidak melibatkan emosi ataupun perasaan agar menghasilkan berita yang jujur dan netral. "Jangan memposting saat emosi dan baper ya" tambahya.

Dalam seminar yang terbuka untuk umum itu Ellen menghimbau untuk para pembaca agar tidak buru-buru membagikan berita, hendaknya cek dan recek terlebih dahulu sebelum men-share. "Tahan dulu jempolnya, jangan buru-buru untuk share, cek dulu kebenaran berita itu" paparnya. Ellen juga menekankan pentingnya memperhatikan efek dari berita yang sudah di share. "Sebelum share perhatikan apakah berita itu menginspirasi, membantu orang lain atau apakah berita itu penting?". Ungkap Kepala Program Studi Ilmu Komunikasi tersebut.

Seminar yang diselenggarakan oleh kelas Public Relation itu juga dihadiri beberapa dosen Ilmu Komunikasi. Satu diantara dosen yang hadir, Abdul Ghofur yang memberi apresiasi dan komentar dengan  materi yang disampaikan pemateri. "Sangat bagus sekali apa yang disampaikan Bu Ellen, karena materi yang disampaikan momentnya pas dengan kondisi sekarang ini, saya banyak tau tulisan-tulisan beliau tentang diet media dan apa yang disampaikan (materi seminar,red) juga merupakan hasil riset beliau". Ungkap dosen yang sekaligus kepala Laboratorium Broadcasting tersebut.(dot-IB)

Antusiasme Peserta di Hari Pertama Pelatihan Jurnalistik Tingkat Dasar

Add Comment

Lpm-papyrus.com -Anggota media online lpm-papyrus.com angkatan pertama sekaligus para pendiri dari LPM Papyrus, mengadakan pelatihan jurnalis di asrama mahasiswa Kayong Utara, Jl. Tlogo Agung, gang III, No.6 Kelurahan Tlogomas, Senin (22/5).


Pelatihan yang digelar selama dua hari mulai dari tanggal 22 Mei 2017 sampai 23 Mei 2017, merupakan pelatihan dasar sebelum pelatihan tingkat madya dan tingkat lanjut. lpm-papyrus.com merupakan media online yang berdiri pada 1 Mei 2017 lalu dan dibentuk oleh Lembaga Pers Mahasiswa (LPM)  konsentrasi jurnalistik jurusan Ilmu Komunikasi angkatan 2014, Unitri Malang.

Penanggung jawab LPM Papyrus Fathul Qorib, menyatakan ada 4 materi pokok yang akan disampaikan pada pelatihan dasar ini yaitu tentang keorganisasian pers kampus, reportase, penulisan berita dan penyuntingan lay-out. "Saya harap setelah mengikuti pelatihan dasar ini, para peserta bisa menguasai keempat kemampuan jurnalistik ini, sehingga nanti output-nya berdampak pada pengelolaan LPM Papyrus yang lebih baik, termasuk dalam keorganisasiannya", tuturnya saat diwawancarai di sela-sela pelatihan.

Fathul juga menghimbau peserta untuk mengikuti pelatihan sebaik mungkin. "Rata-rata pemateri yang hadir adalah orang-orang yang sibuk, tapi masih meluangkan waktunya hadir disini", tambahnya.

Di hari pertama pelatihan dibentuk dua sesi dan diisi oleh tiga orang pemateri. Sesi pertama yang dimulai dari pukul 15.00 WIB, berisi pemaparan materi soal keorganisasian pers kampus oleh Faizal Ade, selaku ketua PPMI (Persatuan Pers Mahasiswa Indonesia). Pelatihan ini berlangsung penuh antusias dari peserta pelatihan selama dua jam lebih.

Selanjutnya sesi kedua dimulai dari pukul 19.00 WIB sampai 21.45 dengan di isi oleh dua pemateri yaitu, Dian Ayu Antika Hapsari dari media online Time Indonesia, membawakan materi penulisan berita dan reportase. Setelah itu dilanjutkan oleh pemateri kedua dari Pimpinan Redaktur Malangpagi Mohammad Arif, dengan menyampaikan materi tentang penyuntingan lay-out . (dot-IB)

Media Untuk Massa atau Media Pribadi Untuk Massa ?

Add Comment

By : Saijuri
Tentu kita semua sebagai pengonsumsi informasi yang datangnya dari berbagai media di Indonesia sudah mengetahui apa saja fungsi dari media, yakni untuk memberikan informasi, menghibur, mendidik bahkan untuk mempengaruhi. Namun bukan untuk berunjuk gigi bukan ?
Seiring pesatnya perkembangan teknologi dan informasi saat ini membuat perkembangan media massa di Indonesia semakin pesat. Menurut Merlyna Lim seorang peneliti asal Indonesia yang menetap di Amerika Serikat sejak 2012, mengatakan bahwa sejak 1988-2012 ada sekitar 1200 media cetak yang bermunculan dan lebih dari 900 radio komersil baru, terutama di daerah Jakarta, serta ada 5 stasiun televisi yang baru. 

Siapa pemilik media sebanyak itu?, siapapun orangnya pasti orang yang kuat dan memiliki banyak kepentingan, entah bisnis atau bahkan yang lagi hangat-hangatnya sekarang yaitu politik, jika benarnya seperti itu, kemana arus berita selama ini ?.

Menurut penelitian Lim, media di Indonesia dikuasai oleh 12 group oleh gabungan koglomerat dan 1 milik Negara. Ke-12 grup itu ialah, Media Nusantara Citra (MNC) Group milik Hary Tanoesoedibjo, Mahaka Group milik Erick Tohir, Kelompok Kompas Gramedia milik Jakob Oetama, Jawa Pos Group milik Dahlan Iskan, Media Bali Post Group milik Satria Narada, Elang Mahkota Teknologi (EMTEK) Group milik Eddy Kusnadi Sariaatmadja, Lippo Group milik James T Riady, Bakrie & Brothers milik Anindya Bakrie, Femina Group milik Pia Alisyahbana dan Mirta Kartohadiprodjo, Media Group milik Surya Paloh, Mugi Reka Aditama (MRA) Group milik Dian Muljani Soedarjo, dan Trans Corpora milik Chairul Tanjung.

Setelah membaca uraian di atas apa yang kita dapat tanggapi berkenaan dengan media massa yang dominan  pemiliknya adalah elit politik. Kekuasaan media dalam menentukan agenda masyarakat bergantung pada hubungan mereka dengan pusat kekuasaan. (Littlejohn, 2009 : 418). Kekuasaan inilah yang membuat para pemilik media lebih menunjukan citra diri pemiliknya. 

Saat ini media massa adalah bagian yang tak dapat dipisahkan dari kita, informasi sudah menjadi bagian dari kebutuhan primer kita. 
Berdasarkan survei oleh Olken lebih dari 600 desa di Jawa Timur dan Jawa Tengah serta membandingkan antara desa yang bisa menjangkau sedikit dengan desa yang bisa menerima bnayak saluran televisi.

Berarti jelas bahwa Media yang banyak di konsumsi dan berpengaruh besar terhadap masyarakat sehingga dapat mempengaruhi pandangan masyarakat terhadap apa yang disuguhkan ialah media televisi.

Televisi di era reformasi saat ini tidak hanya berfungsi sebagai media penyampai pesan saja, tetapi juga berfungsi sebagai penarik minat massa untuk meraup dukungan dalam segala hal. Sebagai media komunikasi massa yang penuh dengan tayangan-tayangan audio visual, bukan tidak mungkin televisi menjadi pusat perhatian. Mengapa orang memperhatikan media massa? Satu kemungkinan jawabannya ialah karena mereka berusaha menambah khazanah pengetahuan (informasi) dan atau memperoleh bimbingan (opini). (Nimmo, 2000 : 172).

Karena informasi telah menjadi kebutuhan kita, maka media massa semakin bebas dalam memberikan informasi, termasuk berkampanye secara tidak langsung bahkan secara terang-terangan dan terus menerus. Pada 2014 lalu Tv One sibuk menayangkan pencitraan positif terhadap Capres Prabowo dan menayangkan kelemahan-kelemahan Capres Jokowi. Metro Tv begitu juga sebaliknya selalu menayangkan sisi positif dari Capres Jokowi dan menayangkan kelemahan dari pasangan Capres Prabowo.

Masyarakat dikepung dan disuguhkan tayangan iklan parpol yang setiap saat muncul dilayar televisi. Siapa yang tidak tau dengan Hary Tanoesoedibyo, pemilik Media Nusantara Citra (MNC) Group (RCTI, MNC, Global TV) yang menjadi perbincangan hangat baik formal di beberapa media maupun hanya rumpi di warung kopi saja karena telah mengepung masyarakat Indonesia dengan iklan Partai Perindo dengan Mars Perindonya. Ironisnya hampir semua anak-anak kecil mulai hafal bahkan berusaha menghafal Mars Perindo tersebut. 

Sungguh miris sekali media massa saat ini. Undang-Undang Penyiaran No. 32 Tahun 2002  menuliskan bahwa frekuensi merupakan sumber daya alam terbatas dan kekayaan nasional yang harus dijaga dan dilindungi oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. UU Penyiaran telah memberikan kewenanagan kepada Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) sebagai lembaga yang independen untuk mewakili publik dalam mengurus penyiaran. Dapat disimpulkan bahwa publik berhak menggunakan, menikmati dan mendapatkan manfaat dari frekuensi, baik yang dikelola oleh komunitas maupun perusahaan yang komersial. 
Dan berdasarkan UU Penyiaran No. 4 Tahun 2002 mengatakan bahwa Penyiaran televisi adalah media komunikasi massa dengar pandang, yang menyalurkan gagasan dan informasi dalam bentuk suara dan gambar secara umum, baik terbuka maupun tertutup, berupa program yang teratur dan berkesinambungan. 

Terlihat jelas bahwa siaran yang dipertontonkan kepada masyarakat haruslah berupa program yang teratur dan harus berkesinambungan, tidak memprioritaskan kepentingan pribadi.

Kepentingan pribadi menjadi prioritas pemilik media saat ini, media massa telah beranjak berubah menjadi media pribadi untuk massa. Adanya Fenomena seperti ini, dapat disimpulkan bahwasannya media massa telah mengalami perubahan fungsi. Media saat ini tidak hanya sebagai penyampai informasi pada masyarakat, melainkan juga berfungsi sebagai alat untuk meraih  keuntungan berupa kekuasaan di masyarakat. Maka daripada itu masyarakat harus mampu bersikap lebih cerdas lagi dalam mengkonsumsi media agar terhindar dari konstruksi sosial media massa yang berupa tayangan-tayangan yang berbau kampanye. Tujuannya agar masyarakat tetap merasa aman dan nyaman dalam bermedia.

ILMU KOMUNIKASI : FILTERISASI EFEK MEDIA

Add Comment

By : Zammil
Lpm-papyrus.com - Media merupakan suatu alat yang sangat penting bagi manusia untuk saling bertukar informasi. Selain memiliki fungsi entertain, education, information media juga memiliki fungsi menjembatani aspirasi komunikator terhadap komunikan. Dengan adanya media masyarakat bisa menyampaikan aspirasinya kepada pemerintah tanpa harus sungkan atau getir ketimbang berhadapan langsung dengan mereka.

Media pada awalnya adalah sahabat masyarakat. Namun saat ini berubah menjadi monster yang sangat menakutkan. Pesan-pesan propaganda, pencitraan partai dan semacamnya detembakkan lewat media. Pesan komunikator yang ditembakkan lewat media, ke komunikan memiliki efek luar biasa terhadap perubahan bangsa. Dengan amunisi pesan yang ditembakkan lewat media. Komunikator bisa mencuci jutaan otak manusia berpaling dari ediologi, adat dan budaya-nya sendiri tanpa mereka sadari. Hal tersebut akan menggerogoti bangsa Indonesia dan menjadi virus yang mematikan karekter bangsa secara perlahan. Sampai bangsa ini kehilangan jatidirinya sebagai bangsa itu sendiri.

Saking besarnya efek yang ditimbulkan media. Kaisar Napoleon yang jago politik dan perang pernah mengatakan “saya lebih takut menghadapi satu pena wartawan  dari pada seribu bayonet musuh” (Syaifulanshor.wordpress.com 2015) ungkapan tersebut hiperbolik bagi kita, tapi tidak bagi Kaisar Napoleon Bonaparte yang telah membunuh banyak tentara musuh. Hal ini perlu kita ingat di dalam otak kita. Dengan satu peluru yang ditembangkan lewat media massa, pada 2 Desember 2016 yang lalu, 7,5 juta ummat muslim dari berbagai daerah turun jalan ke Jakarta menuntut keadilan (detiknews.com 2016) karena agamanya merasa dilecehkan, padahal mereka hanya dijadikan alat untuk mendapatkan jabatan.

Pada masa pemilihan presiden periode Jokowi VS Prabowo media memilki peran yang sangat besar dalam kemenangan tersebut. Jokowi dengan republik Twitter-nya mampu mempengaruhi masyarakat Indonesia sehingga memenangkan pemilihan tersebut. Saddam Husein dihukum gantung oleh tentara Amerika karena komunikator menimbakkan pelurunya ke media massa dengan mengatakan bahwa “Irak memiliki senjata pemusnah massal. Padahal hal ini hanyalah dalih negara adikuasa untuk membunuh musuh-musuhnya” (Muhaimin, intrernational.sindows.com 2014).

Saat ini media sudah menjadi sahabat kaum feodal. Kesetaraan gender yang diperjuangkan pada tahun 60-an oleh kaum wanita dari berbagai kampus menjadi sia-sia. Perjuangan penghapusan kelas pun demikian. Komunikator telah menembakkan racun  pencuci otak terhadap bangsa kita.

Media telah menggambarkan wanita cantik adalah wanita yang memiliki kulit putih, bertubuh seksi dan berpakaian mini, hal ini telah membuat kelas pada sisitem sosial masyarakat. Ini disebabkan media telah men-stimuli otak kita sehingga  “persepsi sering mengelabuhi kita. Itulah yang disebut perceptual. Kita merasa dunia datar, padahal bulat” (Mulyana  Deddy 2008). Laki-laki tanpan adalah laki-laki bertubuh kekar. Padahal semua ketampanan dan kencantikan adalah relatif, penilayan kecantikan wanita dan ketanpan peria yang digambarkan oleh media tersebut adalah penyeragaman rasa yang dimuat dengan pesan iklan.

Uang dijadikan simbol kebahagiaan dalam media (Posmoderen). Sehingga tak sedikit wanita yang menjual kehormatan untuk mendapatkan kebahagiyaan dengan uang. Dengan media, para kaum-kaum kapitalis mudah memperkosa negeri kita yang bertubuh molek seperti artis Siti Nurbaya. Oleh sebab itulah "saya membagi ilmu pengetahuan yang dititipkan Tuhan kepadaku, untuk kalian".

Masyarakat kita yang notabene belum mendapatkan pendidikan yang merata Tidak bisa menyaring pesan-pesan media yang tidak baik terhadap dirinya dan negerinya. Apalagi sekarang marak informasi hoax seperti kematian JUPE, penampakan awan berdo’a dipemakaman UJE, UfO melancong di Bali selama satu jam dan vidio "Malaikat Jatuh Di Citos". Banyak sekali berita hoax di media massa. Informasi itu jangan ditelan mentah-mentah, harus ada pem-filteran yang signifikan agar tidak membunuh kebenaran informasi. Salah satunya masyarakat atau kader bangsa harus mendapatkan pendidikan yang rata untuk mendapatkan filter yang baik.

Wajib belajar 12 tahun harus segera diterapkan, (psmk.kemdikbud.go.id) jangan hanya menjadi retorika di ruangan bermeja. semua bangasa kita harus mendapatkan pendidikan yang rata jangan hanya anak pejabat saja. Hal ini selain untuk menghilangkan kebodohan bangsa, juga untuk penyaring efek negative media yang merajalela, agar mereka tidak beranggapan bahwa pesan yang disampaikan oleh media semuanya baik, dan tidak pulah semuanya berdampak buruk. Bangsa kita jangan sampai  apatis terhadap informasi yang ada.

Akan tetapi tidak semua ilmu efektif untuk menjadi filter efek media. Ilmu yang paling efektif untuk mem-filter efek tersebut, saya kira adalah Ilmu Komunikasi. Kerena amunisi yang ditembakkan oleh media itu sendiri merupakan produk dari ilmu tersebut.

Dalam Ilmu komunikasi mempelajari berbagai hal diantaranya. Periklanan, Komunikasi Lintas Budaya, Komunikasi Politik, Komunikasi Publik, Filsafat Komunikasi, Komunikasi Organisasi, Retorika Publik Speaking dan Komunikasi Sosial Budaya. Sedang teori-teori yang dipejari di dalamnya adalah. Agenda Setting, Jarum Hipodermik, Johari Window, Dramaturgi, teori Lasswel, teori Gunung Es dan teori Behaviorisme yang di cetuskan oleh John B. Watson pada tahun 1878. Teori yang saya sebutkan diatas, saya rasa sudah cukup untuk memaparkan keefektifan Ilmu Komunikasi sebagai filter efek media yang baik.

Media menembakan amunisinya tidak terlepas dari teori Agenda Setting. (Di dalam yearrypanji.wordpress.com 2008) Denis McQuail (2000: 426) mengutip Agenda Setting sebagai “process by which the relatve attention given to items or issues in news coverage influences and attribution of public significance. As an extension, effects on public policy may accur”. Setiap pesan yang dipublikasikan oleh media semuanya sudah di perhitungkan dampak yang akan ditimbulkan oleh senjata tersebut. Pengemasan pesan-pesan diracik dengan sempurna supaya ketika ditembakkan mengenai sasaran yang diinginkan. Di dalamnya mengandung teori Jarum Hipodermik, jarum suntiknya memang ada di luar. Tetapi rucun-rucun yang disuntikkan akan menstimulus otak kita agar mempercayai dan mengikuti pesan yang tersirat.

Efek Media
Pesan yang disampaikan oleh media mempengaruhi psikologi komunikan “komunikasi pada penyampaian energi dari alat-alat indera keotak, pada peristiwa penerimaan dan pengelolahan informasi, pada proses saling pengaruh di antara berbagai sistem dalam diri organisme dan di antara organisme” (Fajar Marhani 2009). Efek yang akan ditimbulkan pertama kali adalah efek kognitif  yang kedua efek afektif sedangkan yang terahir adalah efek behavioral.

1. Efek kognitif, menurut Siti Kurlina (di dalam Taqiyuddin Muhammad 2007)“adalah akibat yang timbul pada diri komunikan yang sifatnya informatif bagi dirinya”. Kita akan diperkenalkan oleh media dengan budaya baru, tempat dan benda baru yang belum pernah kita ketahui sebelumnya. Dengan adanya media kalian bisa tahu seperti apa bentuk Kapal Selam, Tank Amfibi dan Gondom. Media juga memperkenalkan budaya baru, seperti berdandan ala artis, atau kebarat-baratan. Sekalipun kita tidak pernah ke Cina, Hongkong, Amerika dan Rusia. Dengan adanya media kita bisa tahu kebudayaan mereka. Berkat media pulah kita mengenal yang namanya Isis yang digambarkan sebagai pemberontak bercardar muslim.

2. Efek afektif, efek ini kadarnya lebih tinggi daripada efek kognitif, tujuan dari komunikasi massa bukan hanya sekedar memberi tahu kepada khalayak agar menjadi tahu tentang sesuatu. Tetapi lebih dari itu setelah mengetahui imformasi yang diterimanya khalayak diharapkan dapat merasakannya (Rahkmat Jalaluddin 2007).  Kita dituntun bisa merasakan apa yang yang terdapat di dalam pesan media, kita akan merasa simpati. Contoh dasarnya, di saat kita nonton film "Tenggelamnya Kapal Van Der Wiijck”. Otak kalian akan diseret dalam cerita tersebut sehingga kalian memiliki perasaan simpati terhadap tokohnya. Atau jika kalian melihat Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi mencetak gol. Kalian sebagai penggemarnya akan merasakan kebahagiyaan juga. Eriska Reinisa, yang memiliki paras cantik dari lahir, dijadikan bintang iklan "Ponds". Agar kalian ter-sugesti dengan kencantikannya.

3. Efek Behavioral, merupakan akibat yang timbul pada diri khalayak dalam bentuk perilaku, tindakan atau kegiatan (Rahkmat Jaluddin 2007). Kalian sudah mendapatkan informasi dan kalian sudah bisa simpati, atau merasakan apa yang dirasakan penyampai pesan. Maka kalian akan diarahkan untuk melakukan yang terdapat di dalam pesan media tersebut. Dengan bentuk perilaku atau tindakan. Kalian yang sering nonton sinetron romantisme maka kalian akan cendrung melakukan tidakan seperti yang terdapat di dalam film tersebut. Hal ini akan membuat kalian sering berkhayal. Sebab kehidupan bukanlah "Dramaturgi".
Oleh karena itu berhentilah atau kurangi menonton film sinetron romantisme yang tidak masuk akal. Semua pesan yang terdapat di dalam media adalah penggiringan perubahan Mendset  kalian. Hidup kita diarahkan melakukan seperti apa yang dilakukan di dalam media. Jika kita paham Ilmu Komunikasi, kita akan dapat membedakan yang fakta dan yang fiktif. Dalam film terkadang mengangkat kisah nyata, tapi hal tersebut hanyalah simulasi dari kisah yang ditambah dan dikurangi agar menarik perhatian penonton. Efek yang ditimbulkan diarahkan sesuai dengan keinginan sutradara.

Dengan belajar Ilmu Komunikasi kita akan mengetahui bahwa Iklan produk tujuanya adalah pemasaran. Iklan partai dan perusahaan adalah pencitraan. Film aksi adalah propaganda. Efek negatif  media harus segera diatasi dengan belajar Ilmu Komunikasi. Agar tidak semua pesan dikonsumsi lagi. Dengan mengetahui tujuan pesan media tidak akan menakutkan lagi.

Adakan Pameran, TIP Sulap Bahan Pangan Lokal Lebih Bernilai Jual

Add Comment
Lpm-papyrus.com - Mahaiswa jurusan teknologi industri pertanian (TIP) mengadakan pameran pangan lokal pada acara parade budaya nusantara di Universitas Tribhuwana Tunggadewi (UnitriI), dengan konsep galeri industri produk hasil penelitian mahasiswa TIP, Sabtu (20/5).

"Pameran ini memang hasil produk dari mahasisiwa TIP. Semua bahan-bahan dari pangan lokal, terdiri dari berbagai ubi-ubian diolah menjadi tepung, dan dibuat menjadi berbagai macam mie", kata Fika Manda salah satu penjaga stand pameran.
Menurut Fika Manda yang juga pengurus Himpunan Mahasiswa Teknologi Industri Pertanian (Himatip) mengatakan, produk ini segaja dibuat dalam bentuk kering agar tidak mudah kadarluarsa.

Nur Khalis selaku Ketua Himatip mengatakan produk dari bahan ubi diantaranya mie gembili, suweg, uwi, kelabi dan jagung pulut. Bahan pangan lokal yang sebelumnya dianggap kurang bermanfaat, kini disulap menjadi lebih berguna dan menambah nilai jual.
"Jagungnya hanya dibakar, kemudian diolah menjadi tepung yang berfungsi untuk berbagai macam olahan seperti mie, biskuit dan  kerupuk", tambahnya.
"Tepung dari ubi-ubian itu semua diformulasi menjadi olahan mie, agar bahannya tidak harus pakai tepung terigu", ujar Rozana selaku Dosen TIP dan penanggungjawab produk. (Mz/Red)

Dari Afi Untuk Keutuhan NKRI

Add Comment
Lpm-papyrus.com - Tepat di Hari Kebangkitan Nasional (HARTIKNAS), Universitas Tribhuwana Tunggadewi (UNITRI) Malang menyelenggarakan acara sarasehan yang merupakan serangkaian acara dari Parade Budaya 2017. Acara tersebut dihadiri oleh tokoh-tokoh Nasional, seperti Akbar Tanjung, Ali Maschan Musa mantan komisi VIII DPR RI, Bambang Budiono yang merupakan dosen Universitas Airlangga Surabaya, dan yang tidak kalah menarik juga dihadiri oleh Afi Nihaya Faradisa. Gadis remaja yang mendadak viral di media sosial karena tulisan yang diunggah di akun facebook miliknya terkait isu SARA akhir-akhir ini, Sabtu (20/5).

Afi, gadis remaja berumur 18 tahun merasa gelisah terhadap rendahnya toleransi antar umat beragama di Indonesia dan meluapkannya melalui tulisan. Tulisan yang mendadak viral tersebut berjudul "Warisan". Ditulis dengan begitu lugas dan kkritis sehingga mengundang decak kagum para netizen yang membacanya, sampai saat ini tulisannya mendapat kurang lebih 90 ribu like, dan lebih dari 50 ribu orang telah mengeshare-nya.

Motivasi Afi tidak lain karena kecintaan Afi pada NKRI dan kepeduliannya terhadap bangsa Indonesia. "Saya mencintai NKRI, saya bukan siapa-siapa, saya sangat peduli terhadap bangsa, dan saya melakukan sesuatu yang saya bisa untuk berkontribusi, saya hanya bisa menulis", ucapan Afi dalam pidatonya. Afi berharap tulisannya dapat menggugah para pembacanya.
Dari tulisan tersebut Afi mendapat konsekuensi yang harus diterima, yakni berupa di bully maupun ancaman fisik melalui telepon maupun media sosial dari pembaca yang tidak suka dengan tulisan Afi. Namun Afi tidak sedikitpun gentar dengan ancaman tersebut.

Terakhir dalam pidatonya Afi mengajak rekan-rekan mahasiswa dan seluruh peserta dalam acara tersebut untuk sama-sama peduli terhadap keutuhan bangsa, "Marilah kita satukan tekad, lakukan sekecil apapun yang kalian bisa", imbuhnya yang langsung disambut tepuk tangan meriah dari peserta yang hadir. (zen)

IKABE Tampilkan Tari Drama Dalam Parade Budaya

Add Comment

Lpm-papyrus.com - Ikatan Keluarga Belu (IKABE) ikut meramaikan Parade Budaya Nusantara di Universitas Tribhuwana Tunggadewi (Unitri) Malang dengan mementaskan drama tentang asal usul manusia pertama di Kabupaten Belu, Atambua Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (20/5).

Drama singkat yang berdurasi 12 menit ini dipersiapkan kurang lebih 3 minggu sebelumnya dan diperankan oleh beberapa mahasiswa asal Atambua yakni, Selvi sebagai pemeran Putri Laka Loro Kmesak, Taek Lakaan (Yosep) dan Yafet sebagai anak laki-laki dari Sang Putri. Sedangkan Elok Lua Lorok (Erna) dan Balok Lua Lorok (Sandri) berperan sebagai anak perempuan.

Selain diperankan oleh 5 orang aktor utama, drama ini juga dikolaborasi dengan tarian daerah asal Belu. Tarian yang dibawakan oleh 10 orang yang berperan sebagai para bidadari, menari sepanjang pertunjukan berlangsung. "Saya Sangat senang dan bangga bisa tampil di Parade Budaya Nusantara Unitri dengan mementaskan drama tentang sejarah asal usul manusia di daerah saya" ujar Selvi ketika ditemui seusai pentas.

Sedangkan Even selaku sutradara dalam drama ini pun menyampaikan maaf kepada seluruh sejarawan dan tokoh-tokoh adat Belu karena drama ini sedikit diubah dengan tujuan untuk dramatisasi, seperti tambahan bidadari yang mengawal sang putri dan menari sepanjang lakon drama. "Saya atas nama teman-teman IKABE mohon maaf apabila drama ini sedikit tidak sesuai cerita aslinya, kami hanya bermaksud untuk mendramatisasi alur ceritanya", jelas Even. (ros)

Harkitnas, Akbar Tanjung Hadiri Serasehan di Unitri

Add Comment
Lpm-papyrus.com - Salah satu tokoh nasional, Akbar Tanjung menjadi pemateri dalam peringatan Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) di gedung olahraga Universitas Tribhuana Tunggadewi Malang, sabtu (20/5L).

Dalam kesempatan ini, Akbar Tanjung menyampaikan apresiasianya terhadap kebijakan pemerintah dalam membubarkan Hisbut Tahrir Indonesia tetap berpedoman pada proses hukum. "Pemerintah sudah bijak dalam dalam menyelasaikan masalah HTI (Hizbut Tahrir Indonesia, red) yang tidak sejalan dengan pancasila, melalui langkah pembubaran yang sesuai dengan hukum". Ungkapnya.

Menurut Akbar Tanjung mantan dewan pertimbangan Partai Golkar dan ketua MPR RI ini, negara khilafah tidak cocok dengan negara Indonesia yang masyarakatnya beragam meski mayoritas didalamnya beragama islam. " Pancasila dasar hukum dalam demokrasi Indonesia" tambahnya.

Harkitnas yang diadakan oleh Untri ini kurang lebih dihadiri 300 peserta. Ahmad Yusuf Kholil selaku sekretaris panitia acara mengatakan yang sudah absen mencapai tiga ratusan orang yang terbagi dalam Badan Ekseskutif Mahasiswa (BEM) se-Jawa Timur, dosen-dosen se Malang dan Organisasi Daerah (Orda) Unitri. Adapun pemateri lainnya dalam serasehan kebangkitan nasional ini yaitu Ali Maschan Mousa mantan komisi VIII DPR RI sekaligus guru besar di UIN surabaya dan Bambang Budiono yang merupakan dosen di Universitas Airlangga, Surabaya. (dot-IB)

Selain Tokoh Nasional, Afi dari Tokoh Sosial Media pun Hadir di Serasehan Unitri

Add Comment
Lpm-papyrus.com - Serasehan Kebangkitan Nasional yang diadakan Universitas Tribhuana Tunggadewi (Unitri) Malang tak hanya dihadiri tokoh-tokoh nasional, melainkan juga tokoh sosial media, Afi Nihaya Faradisa.  Nama Afi mulai viral di sosial media facebook karena postingannya yang kritis terkait isu SARA akhir-akhir ini. Afi sendiri sempat memberi sambutan sebelum acara serasehan tersebut dimulai, Sabtu (20/5).

Susan yang merupakan mahasiswa Unitri dari jurusan komunikasi saat ditemui mengaku sangat antusias untuk bertemu dengan Afi. Menurutnya, tulisan-tulisan Afi di facebook begitu menginspirasi padahal Afi sendiri masih remaja. "Saya kagum dengan tulisan-tulisan mbak Afi yang kritis", paparnya. Bahkan salah satu alasan ia menghadiri serasehan karena akan ada Afi nantinya.

Serasehan dengan tema "NKRI Berdasarkan Pancasila dan UUD 45 Tolak Khilafah" ini dihadiri tokoh nasional seperti Akbar Tanjung. Selain itu dihadiri pula oleh Ali Maschan Musa mantan komisi VIII DPR RI dan Bambang Budiono yang merupakan dosen di Universitas Airlangga, Surabaya. (dot-IB)

Communication Festival 2017: Ini Eventnya Siapa?

Add Comment
Pada tahun-tahun sebelumnya, diesnatalis prodi ilmu komunikasi selalu melibatkan mahasiswa dari tiga konsentrasi dalam hal kepanitiaan. Beda tahun kemarin, beda pula tahun ini. Pasalnya, event yang diadakan ini awalnya dibuat dengan konsep sepihak untuk memenuhi matakuliah Managemen EO, khusus mahasiswa konsentrasi public relation (PR).
Banyak pihak dari mahasiswa dua konsentrasi lainnya yakni jurnalistik dan broadcasting menyayangkan sekaligus bertanya-tanya akan adanya event diesnatalis kali ini. Sebab bukan tanpa alasan, konsep acara sendiri pada mulanya dibuat hanya untuk memenuhi matakuiah khusus dengan memepertaruhkan empat matakuliah lainnya.
Tentu hal ini sangat memberatkan para mahasiswa konsentrasi khusus public relation, nyatanya mereka juga dilimpahkan tanggungjawab mengadakan event comfes. Sebab sebelumnya tugas yang diberikan dosen pengampu hanya disuruh membuat proposal acara berupa Culture In Home (CIH), Media Talkshow Exhibitionn (MTE) dan Navigasi Komunikasi, kemudian diseleksilah dari tiga hasil proposal terbaik. Ketiga proposal ini semuanya diagendakan terlaksana sebagai event lomba dan seminar, sama sekali bukan ditujukan pada even diesnatalis jurusan maupun communication festival.
Dari pihak Himpunan Mahasiswa Komuikasi (HIMAKOM) pun melayangkan pernyataan yang sama, mereka tidak tahu-menahu akan akan adanya even comnunication festival (comfes). Tidak adanya informasi sebelumnya terkait adanya acara, koordinasi dari dosen pengampu public relation pun dinilai terburu-buru.
Menurut Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Komunikasi (Himakom), Tarno Maryanto menyatakan bahwa, pihaknya sebenanrnya mendapat informasi juga baru-baru ini. Ia mendapat koordinasi untuk sumbangsih dana acara. Dengan ini otomatis HMJ dan seluruh  mahasiswa komunikasi diikutkan partisipasinya. Sebab beberapa waktu sebelumnya communication festival dikabarkan gagal dan ditunda pelaksanaannya. Wajar jika mahasiswa tiap konsentrasi komunikasi merasa kurang bergairah memeriahkan acara yang terkesan mendadak ini.
Di lain pihak, Ibu Amanah selaku dosen pengampu konsentrasi PR membantah akan tiadanya koordinasi pada tiap konsentrasi. Beliau mengatakan sudah melayangkan surat pemberitahuan sekaligus undangan pada seluruh konsentrasi, termasuk broadcasting maupun jurnalistik. "Jika informasi belum semuanya tahu, wajar kita kan ada mahasiswa yang aktif dan pasif. Tapi kami sudah layangkan surat undangan", ujarnya.
Meskipun acara ini dari tahun-tahun sebelumnya selalu melibatkan setiap mahasiwa konsentrasi, namun berdasarkan kesepakatan para dosen tahun ini agar tidak sama dengan tahun sebelumnya. "Kita membuat konsep acara sengaja berbeda dari tahun sebelumnya. Kalau tahun kemarin kita melibatkan semua mahasiswa konsentrasi, sekarang kita hanya melibatkan mahasiswa PR saja. Bukan bermaksud membuat gap, tapi acara ini sebenanrnya sudah molor dari perencanaan november tahun kemarin. Harusnya pada bulan februari lalu sudah terlaksana tapi masih saja belum. Jadi, waktu yang mendesak ini sebetulnya harus segera dilaksanakan", jelasnya panjang lebar kepada tim LPM Papyrus ketika ditemui di lapangan voli sewaktu acara berlangsung (17/05).
Sejauh ini event communication festival yang diadakan selama tiga hari, tercatat dimulai dari 17 Mei 2017 - 19 Mei 2017 masih menyisakan kejanggalan di kalangan mahasiswa. Tidak merata-jelasnya informasi pada mahasiswa sempat menumbuhkan berbagai macam prasangka negatif. Kekhawatiran adanya gap antara tiap konsentrasi jurusan lantaran even ini semula tugas kuliah dan bukan untuk even komunikasi secara umum, wajar jika event ini dinilai koordinasi secara sepihak.
Bukan tidak mungkin ketika kepanitiaan yang biasa terlibat adalah tiap konsentrasi bukan hanya PR, menyebabkan partisipasi mahasiswa kurang antusias. "Kami memang dapat informasi, tapi dari hari kemarin bukan jauh hari sebelumnya. Kami diberi tahu untuk berpartisipasi dan infonya hanya dari teman bukan undangan resmi", ungkap Maya Gustiani Putri, mahasiswi konsentrasi broadcasting.
"Jika kita merasa adanya gap antar mahasiswa, itu hanya prasangka karena tidak solid. Sebenarnya konsep acara yang diadakan sebelumnya semasa Alm. Bu Mia juga sama, event ini dibebankan pada salahsatu matakuliah. Hanya saja tahun ini beda, kita tidak solid", tutur Amanah melanjutkan.
Adanya miskomunikasi yang terjadi antara dosen dan mahasiswa komunikasi diharapkan tidak terjadi lagi pada even selanjutnya tahun depan. Informasi yang harusnya jelas-merata diterima utuh tidak pincang dan sepotong-potong. Meskipun pembelaan dari salah satu kedua pihak belum tentu benar, setidaknya harapan kedepan diesnatalis komunikasi tidak lagi diinfokan secara mendadak.
Namun begitu, banyak harapan dari berbagai pihak akan susksesnya comfes 2017 entah itu dosen maupun mahasiswa itu sendiri. "Kami tetap berharap event kali ini berjalan lancar, sukses tanpa kendala", kata Suhardi, mahasiswa konsentrasi jurnalistik.
"Tetap semangat, semoga semakin baik dalam berkreasi. Selalu menemukan inovasi baru dan semakin solid", imbuh Ibu Amanah. (red)

Communication Festival 2017: Ini Eventnya Siapa?

2 Comments


LPM-PAPYRUS.COM - Pada tahun-tahun sebelumnya, diesnatalis prodi ilmu komunikasi selalu melibatkan mahasiswa dari tiga konsentrasi dalam hal kepanitiaan. Beda tahun kemarin, beda pula tahun ini. Pasalnya, event yang diadakan ini awalnya dibuat dengan konsep sepihak untuk memenuhi matakuliah Managemen EO, khusus mahasiswa konsentrasi public relation (PR).
Banyak pihak dari mahasiswa dua konsentrasi lainnya yakni jurnalistik dan broadcasting menyayangkan sekaligus bertanya-tanya akan adanya event diesnatalis kali ini. Sebab bukan tanpa alasan, konsep acara sendiri pada mulanya dibuat hanya untuk memenuhi matakuiah khusus dengan memepertaruhkan empat matakuliah lainnya. 

Tentu hal ini sangat memberatkan para mahasiswa konsentrasi khusus public relation, nyatanya mereka juga dilimpahkan tanggungjawab mengadakan event comfes. Sebab sebelumnya tugas yang diberikan dosen pengampu hanya disuruh membuat proposal acara berupa Culture In Home (CIH), Media Talkshow Exhibitionn (MTE) dan Navigasi Komunikasi, kemudian diseleksilah dari tiga hasil proposal terbaik. Ketiga proposal ini semuanya diagendakan terlaksana sebagai event lomba dan seminar, sama sekali bukan ditujukan pada even diesnatalis jurusan maupun communication festival.
Dari pihak Himpunan Mahasiswa Komuikasi (HIMAKOM) pun melayangkan pernyataan yang sama, mereka tidak tahu-menahu akan akan adanya even comnunication festival (comfes). Tidak adanya informasi sebelumnya terkait adanya acara, koordinasi dari dosen pengampu public relation pun dinilai terburu-buru.

Menurut Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Komunikasi (Himakom), Tarno Maryanto menyatakan bahwa, pihaknya sebenanrnya mendapat informasi juga baru-baru ini. Ia mendapat koordinasi untuk sumbangsih dana acara. Dengan ini otomatis HMJ dan seluruh  mahasiswa komunikasi diikutkan partisipasinya. Sebab beberapa waktu sebelumnya communication festival dikabarkan gagal dan ditunda pelaksanaannya. Wajar jika mahasiswa tiap konsentrasi komunikasi merasa kurang bergairah memeriahkan acara yang terkesan mendadak ini.
Di lain pihak, Ibu Amanah selaku dosen pengampu konsentrasi PR membantah akan tiadanya koordinasi pada tiap konsentrasi. Beliau mengatakan sudah melayangkan surat pemberitahuan sekaligus undangan pada seluruh konsentrasi, termasuk broadcasting maupun jurnalistik. "Jika informasi belum semuanya tahu, wajar kita kan ada mahasiswa yang aktif dan pasif. Tapi kami sudah layangkan surat undangan", ujarnya.

Meskipun acara ini dari tahun-tahun sebelumnya selalu melibatkan setiap mahasiwa konsentrasi, namun berdasarkan kesepakatan para dosen tahun ini agar tidak sama dengan tahun sebelumnya. "Kita membuat konsep acara sengaja berbeda dari tahun sebelumnya. Kalau tahun kemarin kita melibatkan semua mahasiswa konsentrasi, sekarang kita hanya melibatkan mahasiswa PR saja. Bukan bermaksud membuat gap, tapi acara ini sebenanrnya sudah molor dari perencanaan november tahun kemarin. Harusnya pada bulan februari lalu sudah terlaksana tapi masih saja belum. Jadi, waktu yang mendesak ini sebetulnya harus segera dilaksanakan", jelasnya panjang lebar kepada tim LPM Papyrus ketika ditemui di lapangan voli sewaktu acara berlangsung (17/05).
Sejauh ini event communication festival yang diadakan selama tiga hari, tercatat dimulai dari 17 Mei 2017 - 19 Mei 2017 masih menyisakan kejanggalan di kalangan mahasiswa. Tidak merata-jelasnya informasi pada mahasiswa sempat menumbuhkan berbagai macam prasangka negatif. Kekhawatiran adanya gap antara tiap konsentrasi jurusan lantaran even ini semula tugas kuliah dan bukan untuk even komunikasi secara umum, wajar jika event ini dinilai koordinasi secara sepihak.

Bukan tidak mungkin ketika kepanitiaan yang biasa terlibat adalah tiap konsentrasi bukan hanya PR, menyebabkan partisipasi mahasiswa kurang antusias. "Kami memang dapat informasi, tapi dari hari kemarin bukan jauh hari sebelumnya. Kami diberi tahu untuk berpartisipasi dan infonya hanya dari teman bukan undangan resmi", ungkap Maya Gustiani Putri, mahasiswi konsentrasi broadcasting. 
"Jika kita merasa adanya gap antar mahasiswa, itu hanya prasangka karena tidak solid. Sebenarnya konsep acara yang diadakan sebelumnya semasa Alm. Bu Mia juga sama, event ini dibebankan pada salahsatu matakuliah. Hanya saja tahun ini beda, kita tidak solid", tutur Amanah melanjutkan.
Adanya miskomunikasi yang terjadi antara dosen dan mahasiswa komunikasi diharapkan tidak terjadi lagi pada even selanjutnya tahun depan. Informasi yang harusnya jelas-merata diterima utuh tidak pincang dan sepotong-potong. Meskipun pembelaan dari salah satu kedua pihak belum tentu benar, setidaknya harapan kedepan diesnatalis komunikasi tidak lagi diinfokan secara mendadak.
Namun begitu, banyak harapan dari berbagai pihak akan susksesnya comfes 2017 entah itu dosen maupun mahasiswa itu sendiri. "Kami tetap berharap event kali ini berjalan lancar, sukses tanpa kendala", kata Suhardi, mahasiswa konsentrasi jurnalistik. 
"Tetap semangat, semoga semakin baik dalam berkreasi. Selalu menemukan inovasi baru dan semakin solid", imbuh Ibu Amanah. (red)

Himma: semangat berkarya dan menjaga keberagaman budaya, ini alasanya

Add Comment

Lpm-Papyrus.com - Himpunan Mahasiswa Manajemem (HIMMA), semangat berkarya  dan menjaga keberangaman budaya yang ada di kampus kerakyatan yang diselenggarakan ketika  die natalis ke-14 Manajemen di halaman Universitas Tribhuwana Tunggadewi (UNITRI) Kamis Malam (18/05/17).

"Saya berharap dengan diadakan acara bisa membangun solidaritas antar pengurus dan anggota, sehingga manajemen lebih aktif dan mempunyai banyak karya". Kata ketua panitia, Ahmadi dalam sambutanya.
Ahmadi menyatakan konsep acara ini di kemas dengan pemotongan tumpeng dan penampilan budaya untuk melestarikan kebudayaan yang ada.

Menurut ketua HIMMA, Ari Mahfud adanya dies natalis ke-14  ini manajemen kedepan harus selalu berkarya dalam menuju prestasi  akademisi maupun di luar akademisi.

"Kami segaja mengundang himpunan mahasiswa manajemen sekota Malang untuk ikut serta dalam kegiatan dies natalisi dan juga biar tahu bahwa keberagaman kebudaya ada di kampus ini, kita semua sama-sama merantau jadi harus menjaga keharmonisan antas budaya", Tambanya ketika dalam sambuatnya.
Kepala program studi (Kps) Warter Agustin, menyatakan Menjaga kebhenikaan dan keutuhan Negara kesatuan repoblik Indonesia (NKRI) merupakan tanggungjawab kita semua dengan hal apapun seperti mengadakan festival prada budaya dan penampilan di setiap kegiatan kampus.

Selain itu Warter panggilan sehari-hari menegaskan inti dari kegistan ini untuk menumbuhkan semangat HIMMA dalam berkarya sehingga berprestasi dan menjaga keberagaman budaya.
"Selamat ulang tahun yang Ke-14  semoga Himma selalu mencetak mahasiswa yang berprestasi serta mempunyai jiwa nasionalisme yang tinggi yang terakhir salinglah menjaga kebhinekaan di Kampus ini antar agama, budaya dan rasa", imbuhnya (Mz).

DIES NATALIS KE-14 HIMMA UNITRI

Add Comment

LPM Papyrus, Hari ini (18/5), mahasiswa Program Studi Ilmu Manajemen yang tergabung dalam HIMMA, merayakan Dies Natalis ke-14 bertempat di lapangan tengah kampus UNITRI. Semua mahasiswa terlihat antusias mengikuti acara  yang bertema “Semangat Berkarya Menuju Prestasi Yang Progresif Dalam Akademisi Dan Keragaman Budaya” ini. Dalam acara yang disponsori oleh BEM dan TRI FM ini terlihat hadir semua civitas mahasiswa program studi Manajemen, 
KPS Manajemen dan hampir sebagian mahasiswa dari program studi lain pun ikut memeriahkan acara ini.

Acara ini juga menjadi ajang bagi para mahasiswa untuk menyalurkan karya-karyanya. Dimana terlihat banyak mahasiswa yang membuka stand-stand untuk berjual produk kerajinan baik itu kerajinan tangan maupun produk makanan. Semua mahasiswa terlihat senang dan bahagia mengikuti acara ini. Terlebih mahasiswa HIMMA mereka bangga dapat merayakan Dies Natalis yang ke-14 ini karena untuk pertama kalinya mereka dapat menggelar perayaan seperti ini. 

Hal ini di benarkan oleh KPS Ilmu Manajemen, Bapak Walter Agustim. Ketika diwawancarai beliau mengatakan bahwa selama beliau menjabat sebagai KPS, acara ini baru pertama kali diadakan. Beliau juga menambahkan “Acara ini bertujuan agar kita berusaha untuk mengintropeksi diri untuk himpunan mahasiswa pada umumnya dan prodi Manajemen pada khususnya dimana,dengan bertambahnya usia dari suatu organisasi dapat menunjukan tingkat kedewasaan organisasi tersebut. Dengan acara ini, kita bisa menumbuhkan rasa cinta terhadap Program studi dan juga merupakan suatu bentuk apresiasi diri baik dari Prodi kepada mahasiswa maupun sebaliknya dari mahasiswa kepada Prodinya. “Saya berharap acara ini dapat bersifat regular dan dapat diadakan setiap tahunnya”, demikian lanjut Pak Walter menutup wawancara siang ini (LS)

Even Pertama Diesnatalis-Kencono Wungu Adakan Lomba Panduan Suara Antar Kampus Se-Malang

Add Comment

Persiapan
Lpm-Papyrus.com - Unit Kegiatan Mahasiswa Kencono Wungu mengadakan even pertama lomba panduan suara antar Universitas dalam rangka diesnatalis yang ke-13 pada hari Kamis tanggal 18 Mei 2017 di Gedung Olahraga Unitri.

Febristensi Lia A selaku ketua panitia acara mengatakan bahwa persiapan acara ini adalah even pertama yang diadakan UKM Kencono Wungu tingkat Kota Malang dikemas dengan lomba panduan suara antar Universitas se-Malang. Rabu(17/5).

"Kami mengundang 7 kampus yang menjadi peserta Diantaranya UMM, UIN, UNMER, UNIKAMA, STPIT, STTM dan STIA",  Ketika di temui di Gedung Olahraga (GOR) Unitri.

Even seperti ini sangat didukung oleh kampus Unitri, alasanya kegiatan yang muatannya mencakup Kota Malang hal itu akan berdampak positif.

"Peserta setiap kampus 20-35 itu sudah termasuk pelatih yang ikut serta", tambahnya(Mz).

Ungkap Salah Satu Dewan Juri Unitri Idol 2017

Add Comment

Lpm-papyrus.com - Pandangan dewan juri Unitri Idol 2017, Pak Dwi Asnawi, salah satu dosen dari Prodi Agribisnis saat diwawancarai di Gedung Olahraga ( GOR ) Unitri. Juri yang mengomentari bagian penampilan peserta, khususnya di busana, penguasaan panggung dan gesture dari semua peserta. beliau menilai bahwa peserta yang tampil di malam grand final Unitri Idol 2017 saat ini mengalami penurunan dari tahun sebelumnya baik dari vokal maupun penampilannya, Kamis (11/5/2017).

Sedangkan persiapan dari panitia justru lebih baik dari tahun yang lalu, walau pun ada kesalahan yang terjadi saat acara  berlangsung seperti lighting, noise nya suara. beliau menganggap bahwa itu murni dari hal-hal yang memang tidak terduga jelasnya, sehingga bisa d maklumi mungkin.

Kalau dukungan dari  kemahasiswaan sendiri tentu itu merupakan kewajiban menurut Narasumber tersebut, apalagi acara ini berhubungan dengan minat dan bakat mahasiswa sendiri. Sehingga memang perlu nya dukungan penuh, Tandasnya. (Oing)

KETIKA KORUPTOR DIBELA

Add Comment


By : Demmy
Korupsi merupakan perbuatan yang melanggar hukum. Korupsi di Indonesia dilakukan oleh para petinggi negara kita dimulai dari lingkungan eksekutif, legislatif maupun yudikatif. Hal ini jelas sangat merugikan perekonomian negara serta menghambat jalannya pembangunan bagi negara Indonesia. Tindak pidana korupsi telah dianggap sebagai “extraordinary crime” atau kejahatan luar biasa. fenomena korupsi di Indonesia yang kian hari kian merajalela, pemerintah yang seharusnya membangun budaya anti korupsi malah merekalah dalang dari korupsi tersebut. Tidak ada salahnya kita “refreshing” sejenak dari kejenuhan dan kekesalan terhadap pemerintah kita yang menjadi tikus negara ini, dengan melihat fenomena hukuman bagi para koruptor yang berbanding terbalik seratus delapan puluh derajat di negeri lain,yang katanya korupsi adalah kejahatan yang luar biasa lalu kenapa hukuman di Indonesia begitu biasa bagi para pelakunya.

Kurang kerasnya hukuman korupsi di Indonesia membuat pelanggaran akan korupsi semakin luar biasa yang berbanding terbalik dengan hukuman yang ada negara lain walaupun dianggap begitu kejam contohnya negara-negara Asia yang menerapkan hukuman keras bagi para koruptor, di Cina dan Korea Utara menerapkan hukuman mati di depan umum bagi para koruptornya. Di Jepang menerapkan hukuman malu atau pengucilan terhadap para pelaku korupsi sehingga mereka frustasi dan mengakhiri hidupnya dengan harakiri atau bunuh diri sedangkan di Eropa negara besar seperti Jerman menerapkan hukuman bagi para pelaku korupsi dengan mengembalikan semua hasil korupsi dan menghabiskan sisa hidupnya didalam penjara.

Bayangkan jika hukuman-hukuman yang keras bagi para koruptor diterapkan di indonesia mungkin para penjabat negara kita akan sangat takut dengan yang namanya korupsi tapi kita perlu garis bawahi Indonesia sangat memegang erat yang namanya hak asasi manusia, hal inilah yang menjadi sedikit alasan yang mungkinmembuat hukuman bagi para koruptor di negara kita seperti lembek terhadap para pelaku koruptornya. Contoh Gayus Tambunan dan Agusrin Najamuddin yang terjerat kasus korupsi bisa dengan nyaman di dalam penjara pasalnya segala sesuatu yang dibutuhkan ada didalam penjara tidak hanya tempat yang dibilang seperti indekos yang mewah tapi sesuatu untuk menjadi hiburan setiap hari bahkan ada pula kedapatan menyimpan ipod didalam kamarnya.

Sungguh luar biasa para koruptor di negeri ini selain mendapatkan tempat yang terbilang mewah di dalam penjara, ada pula yang kasusnya malah dibela oleh para pakar hukum. Sungguh sebuah ironiketika pakar hukum negara ini dapat memutar balikkan data dan mengaburkan hukum demi menyelamatkan koruptor. Salah satu contoh kasus ketika para koruptor dibela yaitu kasus Susno Duadji yang sudah ditetapkan bersalah atas kasus korupsi menerima uang suap dan dana pengamanan pilkada Jabar 2008, tapi masih saja dibela oleh seorang pakar hukum Yusril Ehza Mahendra mati-matian. Didalam kasus ini kita dapat melihat bahwa seorang pakar hukum kurang dalam memahami permaslahan hukum, Korupsi adalah sebuah kejahatan yang besar dan tidak layak bagi para pelaku untuk diampuni apalagi dibela.

Kembali berbicara masalah negara ini tentang korupsi, negara kita adalah negara demokrasi begitu pula dengan Denmark yang merupakan negara demokrasi cuma sistem negara kita saja yang berbeda, Denmark memegang sistem perlementer sedangkan Indonesia presidensial tapi Denmark menjadi negara rendah korupsinya dari 100 skor negara terbaik tanpa korupsi Denmark mendapatkan skor 91, lalu bagaimana dengan Denmark bisa menjadi negara yang rendah korupsinya. Yang pertama Denmark menerapkan sistem keterbukaan politik sehingga meningkatkan nilai tranparansi pemerintah negara mereka, yang kedua fleksibilitas tenaga kerja sehingga membuat negara mereka mengamankan pertumbuhan ekonomi yang seimbangdengan begitu membuat kesejateraan bagi warganya, dan yang ketiga pendidikan dan kesehatan gratis yang membuat keseimbangan sosial, kesejahteraan sosial dan kesetaraan antar warganya sehingga menekan angka korupsi di negara mereka.

Dampak korupsi sudah sedemikian menggurita dalam kehidupan masyarakat, yang paling dirugikan dalam hal ini adalah rakyat, karena sejumlah besar uang yang dikorupsi hakikatnya adalah uang rakyat. Korupsi merupakan tindakan yang dapat menyebabkan sebuah negara menjadi bangkrut dengan efek yang luar biasa seperti terhambatnya pembangunan nasional disebabkan oleh hancurnya perekonomian sehingga menyengsarakan masyarakat. Efek konkretnya adalah memperparah kemiskinan, pendidikan, pelayanan kesehatan menjadi mahal, fasilitas umum seperti transportasi menjadi tidak aman serta rusaknya infrastruktur jalan,dan yang paling berbahaya adalah meningkatnya angka pengangguran mengakibatkan angka kriminalitas pun meningkat. Korupsi juga memperburuk citra bangsa Indonesia di mata internasional.

Runtuhnya Trias Politika di Indonesia menjadi sesuatu yang menakutkan di pemerintahan kita, menurut “Charles De  Mostesquieu jika ketiga lembaga atau dua lembaga (Eksekutif, Yudikatif, Legislatif)  terjadinya perselingkuhan akan mengakibatkan kesemena-menaan dan hilangnya kebebasan warganya”(Edy Priyono, 06 maret 2012). Dari penjelasan tentang Charles diatas kita dapat menarik kesimpulan bahwa jika lembaga Yudikatif (pengadilan) disatukan dengan lembaga Eksekutif yang akan terjadi yaitu penindasan dan penyalah gunaan kekuasaan untuk kepentingan pribadi. Di negara kita ketakutan runtuhnya Trias Politika sudah terjadi dengan tertangkapnya Akil Mohtar ketua Mahkamah Konstitusi dan Choirunnisa anggota DPR RI terhadap tindak pidana kasus suap pilkada mencerminkan kepad kita bahwa adanya perselingkuhan kekuasaan Yudikatif, Legislatif dan Eksekutif di Indonesia.

Memerangi korupsi saat ini dimulai dari diri kita sendiri, pada dasar nilai ahlak harus ditanamkan sejak dini, sikap jujur, budaya malu serta sistem pemerintah yang lebih transparan harus diterapkan.Tidak hanya hukum tumpul di atas dan tajam ke bawah melainkan hukum dipergunakan sebagai mana mesti bukan menindas yang lemah tapi mengadili semua orang yang bersalah seperti kata Basuki Tjahaja Purnama “untuk mengubah Negara ini kita tidak perlu angkat senjata di medan perang seperti jaman dahulu, tapi kita jangan korupsi saja itu sudah cukup”(Jagokata.com, Politikus dan Gubernur 1966) dan di pundak pemimpin yang bebas korupsilah masa depan negeri ini.

BERITA ONLINE PEMICU KONFLIK

BERITA ONLINE PEMICU KONFLIK

Add Comment
Media onlineadalah media yang tersaji secara online di internet, banyak penggunanya yang bisa dengan mudah berbagi, berpartisipasi maupun menciptakan peluang melalui: jejaring sosial, blogger, twitter, forum internet dan jejaring lainnya. Aplikasi-aplikasi ini merupakan media sosial yang sering digunakan masyarakat di seluruh dunia, apalagi Indonesia menempati peringkat ke-4 pengguna Facebook setelah USA, Brazil dan India dan pengguna Twitter terbesar peringkat ke-5 setelah USA, Brazil, Jepang dan Inggris.(Kominfo, IKP).

Dalam kamus besar Indonesia (KBBI 2010) disebutkan media adalah alat atau sarana komunikasi seperti koran, majalah, radio, televisi, film, poster dan spanduk. Maka dari itu media online membantu setiap individu dan masyarakat mempunyai keleluasan dalam memdapatkan informasi juga menyampaikan informasi tanpa ada batasan waktu, oleh karenanya perlu ada penyaringan informasi.

Pemberitaan dalam media online sangat gencar-gencarnya memberitakan konflik dan kasus-kasus yang mempengaruhi masyarakat dan pengguna media. Dalammembangun masyarakat perlu adanya pemberitaan yang tidak ada unsur propaganda sehingga presepsi tidak berbeda dan meninbulkan konflik yang berkepanjangan.
Suatu media massa menjadi peran utama dalam membangun situasimasyarakat maupun negara,media online mempunyai krateristik meliputi : kapasitas luas, halaman web bisa menampung naskah sangat panjang, jadwal terbit bisa kapan saja, setiap saat dan update, aktual terjangkau seluruh dunia (Wikipidia, ensiklopedia bebas).

Sedangkan media berfungsi mencegah dan meredakan konflik yang telah berlangsung di masyarakat supaya akibat yang di hasilkan tidak terjadi melalui pemberitaan yang objektif, akurat dan bertanggungjawab. Tapi untuk saat ini khususya media online wartawan maupun institusi media itu sendiri menjadikan media sebagai alat untuk melakukan propaganda dan memprovokasi isu yang sudah terjadi, dengan demikian konflik akan semakin runyam dan semakin membesar seperti kasus dugaan penodaan agama yang di lakukan Gubernur DKI Jakarta non aktif Basuki Tjahaja Purnomo alias Ahok (Tempo.com). Kejadian di bulan maret sangat gencar di beritakan di media massa tentang sopir angkot dan pengemudi ojek “Online” bentrok di Tangerang (megapolitan.kompas.com)

Akibatnya seluruh umat islam berbondong-bondong ke Jakarta untuk membela Islam, konflik yang kecil menjadi besar yang mengarah pada perpecahan agama yang sudah nyata terjalin baik dan juga masyarakat yang bekerja di ojek online takut untuk bekerja lagi, ini akan merugikan beberapa pihak.Media massa mengambil kesempatan untuk mempromosikan medianya supaya laku di pasaran dan banyak pembaca.

Pada Era Reformasi, konflik menjadi lebih tajam dan tampak semakin dramatis diberitakan melalui liputan pers. Konflik penistaan agama yang di lakukan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok pada acara peresmian panen pertama budidaya Kerapu di Kantor Dinas Kelautan Dan Pertanian Kebupaten Kepulauan seribu, pemberitaan ini sangat banyak di media online dengan berbagai macam pandangan media.Dibandingkan dengan topik-topik lain para wartawan menganggap konflik, sebagai hal yang memenuhi banyak kriteria jurnalistik untuk membuat peristiwa menjadi berita. Indonesia kita ketahui bersama menganut sistem demokrasi yang membebaskan rakyatnya bersuara dan berpendapat.Gelombang kebebasan pers tercipta besar-besaran, bukan dengan perlahan proses semestinya.

Pers saat ini selalu dihubungkan dengan demokrasi.Demokrasi berarti kebebasan untuk berbicara dan mengeluarkan pendapat. Salah satu indikator demokrasi adalah terciptanya jurnalisme yang independen. Walaupun pada kenyataannya saat ini, terkadang pers masih dimanfaatkan oleh pemerintah untuk melanggengkan kekuasaan.Wartawan itu sendiri tidak bisa memberitakan sesuai fakta yang ada di lapangan dikarenakan pemilik perusahanan media yang menentukan apa yang patut di berikan kepada publik.

Idealnya suatu berita yang baik adalah berita yang ditulis berdasarkan fakta sesungguhnya. Tidak dikotori oleh kepentingan segelintir orang sehingga mendistorsi  fakta tersebut. Namun dalam realita media sebagai ruang publik kerap tidak bisa memerankan diri sebagai pihak yang netral. Media senantiasa terlibat dengan upaya merekonstruksi realitas sosial. Dengan berbagai alasan teknis, ekonomis, maupun ideologis, media massa selalu terlibat dalam penyajian realitas yang sudah diatur sedemikian rupa sehingga tidak mencerminkan realita sesungguhnya. Keterbatasan ruang dan waktu juga turut men-dukung kebiasaan media untuk meringkaskan realitas berdasarkan “nilai berita”. Prinsip berita yang berorientasi pada hal-hal yang menyimpang menyebabkan liputan peristiwa jarang bersifat utuh, melainkan hanya mencakup hal-hal yang menarik perhatian saja yang ditonjolkan. Berita juga sering dibuat berdasarkan semangat “laku-tidaknya berita itu dijual” (Trijono dalam A. 2002).

Dalam keterkaitan teori komunikasi, ada satu teori yang bisa menjelaskan yaituteori Agenda Setting yang diperkenalkan oleh McCombs dan DL Shaw (1972).  Penekanan dalam teori ini adalah media memberi tekanan pada sesuatu peristiwa, media massa tersebut akan memperngaruhi khalayak secara fundamental apa yang di anggap penting dalam suatu media  jadi masyarakat berasumsi bahwa efek yang media massa mempengaruhi proses pembelajaran dan sikap.


Setiap media massa sebelum menaikkan berita pasti melalui beberapa tahap yang perlu dilalui hingga terbit di medianya, hal ini yang membuat keaslian suatu berita terkurangi bahkan berita itu tidak di naikkan atas dasar tidak sesuai dengan yang di inginkan perusahaan atau bisa menurunkan minat baca masyarakat pada media tersebut. Teori Agenda setting dalam media massa berlaku menjadi pusat penentuan berita yang mengarahkan khalayak pada isu-isu yang di anggap penting oleh media massa ketimbang pemberitaan yang lebih bermamfaat pada masyarakat itu sendiri, aspek yang di agendakan media berupaya pada konsentrasi propaganda dalam isu yang di angkat.

UPACARA PEMBUKAAN TURNAMENT FUTSAL MAHASISWA TIMOR LESTE-MALANG

Add Comment

LPM-Papyrus.com - 300 orang mahasiswa Timor Leste yang kuliah di kota Malang pagi tadi  mengikuti upacara pembukaan turnament futsal di Blimbing (13/5). Acara ini digelar dalam rangka memeriahkan HUT Kemerdekaan Timor Leste ke-16 tahun yang akan diperingati pada tanggal 20 Mei mendatang. Mahasiswa yang hadir ini mewakili 13 distrik (kabupaten) yang ada di Timor Leste. Upacara ini selain untuk mengadakan turnament futsal tetapi juga untuk menjalin silaturahmi antar mahasiswa/i Timor Leste yang kuliah di kota Malang.

Pertandingan pembukaan pada hari ini diikuti oleh 8 tim yang mewakili 8 Distrik, yaitu Fc. Baucau mewakili Distrik Baucau, Fc. Dias Pora mewakili tim tamu Fc. Liquica mewakili Distrik Liquica, Fc. Dili mewakili Distrik Dili, Fc. Manututu mewakili Distrik Manututu, Fc. Viqueque mewakili Distrik Viqueque, Fc. Same mewakili Distrik Same, dan Fc.Suai mewakili Distrik Suai. Dan akan dilanjutkan besok Minggu (14/5), oleh 4 tim lainnya yang mewakili 4 Distrik yang tersisa, yaitu Fc. Ermera mewakili Distrik Ermera, Fc. Ainaro mewakili Distrik Ainaro, Fc. Aileu mewakili Distrik Aileu dan Fc. Bobonaro mewakili Distrik Bobonaro.


Yang tampil pertama pada pembukaan pertandingan hari ini adalah Fc.Baucau vs Dias Pora dimana Fc. Dias Pora unggul 3-2 atas Baucau Fc. Pertandingan kedua antara Club Liquica yang unggul atas Fc. Dili dengan skor 8-0, Pertandingan ketiga Fc. Manututu dikalahkan oleh Fc. Viqueque dengan skor 3-2. Pertandingan keempat Fc. Suai vs Fc. Same yang diakhiri dengan kemenangan Fc.Suai 3-2 atas Fc. Same.

Ketua Umum Kestil (Klibur Estudante Timor Leste- Malang) Cesario da Cruz, mengatakan bahwa “ kita semua adalah generasi baru yang dipercaya untuk membangun dan dapat membawa Negara kita ke suatu perubahan yang lebih baik ke depannya, oleh karena itu kita harus berusaha untuk menemukan sesuatu yang baru demi kemajuan bangsa dan Negara kita nantinya”. Selanjutnya ditambahkan oleh Ketua Penasehat Felipe “Pertandingan ini bukanlah sebuah sensasi untuk mencari kejuaraan atau pemenang tetapi sebagai ajang untuk mempererat persaudaraan mahasiswa/i Timor Leste yang ada di kota malang sehingga dapat saling mengenal antar satu dengan yang lainnya

Selanjutnya, beliau mengingatkan agar semua yang hadir hari ini tetap berpartisipasi sampai turnament ini selesai, karena besok juga masih ada pertandingan lanjutan dan untuk babak semi final dan final akan dilangsungkan pada tanggal 20 Mei mendatang bertepatan dengan HUT Kemerdekaan Timor Leste yang ke 16 tahun. (LS)