Header Ads

ad

Communication Festival 2017: Ini Eventnya Siapa?

Pada tahun-tahun sebelumnya, diesnatalis prodi ilmu komunikasi selalu melibatkan mahasiswa dari tiga konsentrasi dalam hal kepanitiaan. Beda tahun kemarin, beda pula tahun ini. Pasalnya, event yang diadakan ini awalnya dibuat dengan konsep sepihak untuk memenuhi matakuliah Managemen EO, khusus mahasiswa konsentrasi public relation (PR).
Banyak pihak dari mahasiswa dua konsentrasi lainnya yakni jurnalistik dan broadcasting menyayangkan sekaligus bertanya-tanya akan adanya event diesnatalis kali ini. Sebab bukan tanpa alasan, konsep acara sendiri pada mulanya dibuat hanya untuk memenuhi matakuiah khusus dengan memepertaruhkan empat matakuliah lainnya.
Tentu hal ini sangat memberatkan para mahasiswa konsentrasi khusus public relation, nyatanya mereka juga dilimpahkan tanggungjawab mengadakan event comfes. Sebab sebelumnya tugas yang diberikan dosen pengampu hanya disuruh membuat proposal acara berupa Culture In Home (CIH), Media Talkshow Exhibitionn (MTE) dan Navigasi Komunikasi, kemudian diseleksilah dari tiga hasil proposal terbaik. Ketiga proposal ini semuanya diagendakan terlaksana sebagai event lomba dan seminar, sama sekali bukan ditujukan pada even diesnatalis jurusan maupun communication festival.
Dari pihak Himpunan Mahasiswa Komuikasi (HIMAKOM) pun melayangkan pernyataan yang sama, mereka tidak tahu-menahu akan akan adanya even comnunication festival (comfes). Tidak adanya informasi sebelumnya terkait adanya acara, koordinasi dari dosen pengampu public relation pun dinilai terburu-buru.
Menurut Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Komunikasi (Himakom), Tarno Maryanto menyatakan bahwa, pihaknya sebenanrnya mendapat informasi juga baru-baru ini. Ia mendapat koordinasi untuk sumbangsih dana acara. Dengan ini otomatis HMJ dan seluruh  mahasiswa komunikasi diikutkan partisipasinya. Sebab beberapa waktu sebelumnya communication festival dikabarkan gagal dan ditunda pelaksanaannya. Wajar jika mahasiswa tiap konsentrasi komunikasi merasa kurang bergairah memeriahkan acara yang terkesan mendadak ini.
Di lain pihak, Ibu Amanah selaku dosen pengampu konsentrasi PR membantah akan tiadanya koordinasi pada tiap konsentrasi. Beliau mengatakan sudah melayangkan surat pemberitahuan sekaligus undangan pada seluruh konsentrasi, termasuk broadcasting maupun jurnalistik. "Jika informasi belum semuanya tahu, wajar kita kan ada mahasiswa yang aktif dan pasif. Tapi kami sudah layangkan surat undangan", ujarnya.
Meskipun acara ini dari tahun-tahun sebelumnya selalu melibatkan setiap mahasiwa konsentrasi, namun berdasarkan kesepakatan para dosen tahun ini agar tidak sama dengan tahun sebelumnya. "Kita membuat konsep acara sengaja berbeda dari tahun sebelumnya. Kalau tahun kemarin kita melibatkan semua mahasiswa konsentrasi, sekarang kita hanya melibatkan mahasiswa PR saja. Bukan bermaksud membuat gap, tapi acara ini sebenanrnya sudah molor dari perencanaan november tahun kemarin. Harusnya pada bulan februari lalu sudah terlaksana tapi masih saja belum. Jadi, waktu yang mendesak ini sebetulnya harus segera dilaksanakan", jelasnya panjang lebar kepada tim LPM Papyrus ketika ditemui di lapangan voli sewaktu acara berlangsung (17/05).
Sejauh ini event communication festival yang diadakan selama tiga hari, tercatat dimulai dari 17 Mei 2017 - 19 Mei 2017 masih menyisakan kejanggalan di kalangan mahasiswa. Tidak merata-jelasnya informasi pada mahasiswa sempat menumbuhkan berbagai macam prasangka negatif. Kekhawatiran adanya gap antara tiap konsentrasi jurusan lantaran even ini semula tugas kuliah dan bukan untuk even komunikasi secara umum, wajar jika event ini dinilai koordinasi secara sepihak.
Bukan tidak mungkin ketika kepanitiaan yang biasa terlibat adalah tiap konsentrasi bukan hanya PR, menyebabkan partisipasi mahasiswa kurang antusias. "Kami memang dapat informasi, tapi dari hari kemarin bukan jauh hari sebelumnya. Kami diberi tahu untuk berpartisipasi dan infonya hanya dari teman bukan undangan resmi", ungkap Maya Gustiani Putri, mahasiswi konsentrasi broadcasting.
"Jika kita merasa adanya gap antar mahasiswa, itu hanya prasangka karena tidak solid. Sebenarnya konsep acara yang diadakan sebelumnya semasa Alm. Bu Mia juga sama, event ini dibebankan pada salahsatu matakuliah. Hanya saja tahun ini beda, kita tidak solid", tutur Amanah melanjutkan.
Adanya miskomunikasi yang terjadi antara dosen dan mahasiswa komunikasi diharapkan tidak terjadi lagi pada even selanjutnya tahun depan. Informasi yang harusnya jelas-merata diterima utuh tidak pincang dan sepotong-potong. Meskipun pembelaan dari salah satu kedua pihak belum tentu benar, setidaknya harapan kedepan diesnatalis komunikasi tidak lagi diinfokan secara mendadak.
Namun begitu, banyak harapan dari berbagai pihak akan susksesnya comfes 2017 entah itu dosen maupun mahasiswa itu sendiri. "Kami tetap berharap event kali ini berjalan lancar, sukses tanpa kendala", kata Suhardi, mahasiswa konsentrasi jurnalistik.
"Tetap semangat, semoga semakin baik dalam berkreasi. Selalu menemukan inovasi baru dan semakin solid", imbuh Ibu Amanah. (red)

No comments