Gebrakan Rektor Unitri: Dorong Dosen dan Mahasiswa 'Unjuk Gigi' Lewat Opini di Media Digital
![]() |
| Prof. Dodi Wirawan Irawanto, S. E., M. Com., Ph. D. saat menyampaikan sambutan sekaligus membuka kegiatan Sharing Session: Penulisan Ilmiah dan Opini di Media Digital di Graha Lantai 2 Unitri, pada Selasa, 11/8/2026. |
Papyrus
– Universitas Tribhuwana Tunggadewi (Unitri) Malang menggelar kegiatan Sharing
Session: Penulisan Ilmiah dan Opini di Media Digital di Graha Lantai 2
Unitri pada Selasa (11/8/2026). Kegiatan yang diinisiasi langsung oleh Rektor
Unitri bekerja sama dengan Humas Unitri ini dihadiri oleh jajaran dosen dan
beberapa mahasiswa. Kegiatan ini menghadirkan dua akademisi terkemuka sebagai
narasumber, yakni Prof. Dr. Bagong Suyanto, M.Si. (Guru Besar dan Pengajar
Departemen Sosiologi FISIP Universitas Airlangga) dan Wawan Sobari, S.IP.,
M.A., Ph.D. (Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas
Brawijaya).
Rektor
Unitri, Prof. Dodi Wirawan Irawanto, S.E., M.Com., Ph.D., dalam sambutannya
menegaskan pentingnya peran akademisi dalam menyuarakan gagasan ke publik demi
memperkuat misi kerakyatan kampus.
"Unitri
memang memiliki misi kerakyatan lalu jangan sampai kemudian kerakyatan itu
difungsikan sebagai hal yang berhubungan dengan kemiskinan justru Unitri di
sini hadir untuk menggaet semua masyarakat terutama masyarakat yang kurang
mampu untuk berproses bersama di tempat ini. Nah melalui kegiatan hari ini
bapak ibu dosen diharapkan mampu memanfaatkan media digital untuk menyampaikan
aspirasi ataupun opini yang dapat membantu masyarakat luas," tegas Prof.
Dodi.
Perwakilan
Humas Unitri, Herru Prasetya Widodo, menjelaskan bahwa pelatihan ini dirancang
untuk memberikan stimulus agar dosen dan mahasiswa lebih aktif menulis di media
massa, sekaligus menjadi strategi penguatan identitas (branding) lembaga
di tingkat nasional.
"Yang
memprakarsai kegiatan ini adalah Pa Rektor sendiri yang kemudian berdiskusi
dengan saya sebagai Humas untuk memberikan stimulus supaya dosen dan mahasiswa
sering nulis di media. Karena apa? Itu juga salah satu cara Rektor membranding
kampus kita. Jadi kegiatan ini sebenarnya memang sangat mendadak dan juga
banyak mahasiswa yang masih mengikuti kegiatan PMT dan liburan. Jadi kegiatan
ini sebenarnya bukan hanya untuk dosen saja tapi memfasilitasi mahasiswa yang
punya tulisan-tulisan baik untuk berani tulis di media. Kalau boleh saya
bicara, Pa Rektor harusnya pagi ini ke lokasi PMT tapi sudah diwakili oleh
wakil rektor 1, 2 dan 3 di tengah kesibukannya," ungkap Herru.
Lebih
lanjut, Herru menambahkan bahwa fokus kegiatan kali ini sengaja diarahkan pada
penulisan populer yang berdampak langsung bagi masyarakat.
"Sebenarnya
kalau kegiatan pelatihan menulis semacam ini untuk kelas Universitas lebih
banyak fokusnya ke penelitian. Setiap tahun pasti ada. Kita nulis untuk
penelitian, kalau hari ini lebih ke opini dan ide ide yang bermanfaat untuk
masyarakat luas. Kampus kita sekarang sudah ke arah gimana caranya memberikan
kontribusi kepada masyarakat ya dengan salah satu caranya yaitu menulis di
media online untuk memberikan opini terkait keilmuan yang tentunya bermanfaat
bagi masyarakat luas," jelasnya.
Kualitas
sumber daya manusia Unitri yang semakin solid menjadi landasan optimisme
Rektorat dalam mendorong jajaran civitas akademika untuk lebih berani tampil di
ruang publik.
"Prof.
Bagong sebagai pemateri pertama kita hari ini backgroundnya Sosiologi yang
sebenarnya lebih banyak nulis soal sosial tapi tidak memungkiri dia untuk
menulis sesuatu yang di luar fokus keilmuannya tapi tentunya melalui riset yang
sudah dia ceritakan dengan baik. Begitu juga Pa Wawan sebagai pemateri kedua
tadi. Gimana caranya kita sebagai penulis di media online itu punya branding
agar dikenal oleh masyrakat luas. Ini yang kita butuhkan saat ini sebagai
bagian dari kampus kita yang sudah sangat luar biasa dengan prodinya udah ada 4
yang unggul, dosen-dosennya ada yang kuliah di luar negeri, yang doktor sudah
lebih dari 35%, jadi udah lebih cukup mumpuni. Itu yang Pa Rektor inginkan
untuk sebisa mungkin bisa tulis di media online," tambah Herru.
Dalam
sesi pemaparan materi, Prof. Bagong Suyanto dan Wawan Sobari sepakat bahwa
keberanian memulai adalah kunci utama dalam menembus media publik, meskipun
bayang-bayang penolakan sering kali memicu keraguan. Keduanya menekankan
pentingnya menentukan fokus kepakaran terlebih dahulu agar tulisan memiliki
bobot akademis yang kuat.
Selain
itu, kedua narasumber membagikan solusi praktis terkait hambatan klasik yang
sering dialami penulis pemula, yakni kesulitan menentukan kata pembuka. Guna
mengatasi kendala tersebut, mereka menyarankan penulis untuk terlebih dahulu
membaca sekitar 10 artikel pilihan, kemudian mencatat kata-kata pertama yang
sering digunakan oleh para penulis berpengalaman. Dengan mengadaptasi pola
pembuka tersebut sebagai latihan awal, setiap penulis diyakini mampu
menghasilkan karya bereputasi tinggi yang dapat memikat pembaca luas. (Rio
Sandrio)

Tidak ada komentar