Bukti Konsistensi: Perjuangan Yesaya dan Syela Raih Lulusan Terbaik
| Yesaya Tipa Djawa & Syela Fitriani saat menyampaikan kesan dan pesan sebagai lulusan terbaik dalam Yudisium periode September 2026 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik |
PAPYRUS _ Menjadi lulusan terbaik mungkin menjadi impian bagi sebagian mahasiswa. Namun, bagi Yesaya Tipa Djawa, mahasiswa Administrasi Publik, dan Syela Fitriani, mahasiswa Ilmu Komunikasi, predikat tersebut justru datang tanpa pernah mereka perkirakan sebelumnya.
Keduanya mengaku terkejut ketika nama mereka disebut sebagai lulusan terbaik dalam acara yudisium Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Tribhuwana Tunggadewi (UNITRI), Jumat (4/9/2026).
Yesaya Tipa Djawa mengaku tidak mengetahui sebelumnya bahwa dirinya akan menjadi salah satu lulusan terbaik. Ia bahkan sempat menanyakan kepada pembawa acara mengenai siapa yang akan mendapatkan predikat tersebut, tetapi tidak mendapat jawaban.
“Kalau saya jujur, terkejut juga, karena sebelumnya kami sempat bertanya kepada MC, namun MC juga tidak menyampaikan siapa yang menjadi lulusan terbaik. Tadi langsung disampaikan nama kami yang termasuk lulusan terbaik,” tutur Yesaya.
Selama menjalani perkuliahan, Yesaya mengaku bukan mahasiswa yang terlalu ambisius. Ia menggambarkan kesehariannya sebagai mahasiswa dengan istilah “kura-kura”, yakni kuliah dan rapat. Selain mengikuti kegiatan akademik, ia aktif dalam GMKI Malang dan organisasi daerah.
Bagi Yesaya, kegiatan organisasi bukan hanya sekadar aktivitas di luar perkuliahan. Organisasi menjadi ruang untuk menerapkan materi yang telah diperoleh selama berada di bangku kuliah.
Meski aktif dalam organisasi, Yesaya tetap menempatkan kewajiban akademik sebagai prioritas. Ia memilih menyelesaikan tugas-tugas perkuliahan terlebih dahulu sebelum menjalankan kegiatan organisasi.
“Jika masih ada tugas dan hal-hal lain yang berkaitan dengan kampus, berarti kita harus menyelesaikannya terlebih dahulu, baru kemudian mengikuti kegiatan organisasi,” kata Yesaya.
Setelah menyelesaikan masa perkuliahan dan meraih predikat sebagai lulusan terbaik, hal pertama yang ingin dilakukan Yesaya adalah mengabarkan pencapaiannya kepada orang tua. Menurutnya, perjalanan selama menjalani perkuliahan tidak terlepas dari doa dan dukungan orang tua.
“Perjuangan kita diiringi oleh doa orang tua. Untuk saat ini, hal pertama yang ingin saya lakukan adalah mengabarkan kepada orang tua,” tuturnya.
Ke depan, Yesaya ingin mencari pengalaman dan tidak menutup kemungkinan untuk membantu mahasiswa yang masih menjalani perkuliahan.
Bagi mahasiswa yang masih menjalani perkuliahan, Yesaya berpesan agar tidak takut menghadapi kegagalan. Menurutnya, kegagalan merupakan bagian dari proses untuk mencapai keberhasilan. Ia juga mengingatkan mahasiswa agar tetap optimis dan berani mempertahankan ide serta gagasan yang dimiliki.
“Jangan takut gagal karena keberhasilan itu berasal dari kegagalan. Jadi, kita harus optimis,” ujarnya.
Ia juga berpesan agar mahasiswa memiliki prinsip dan tidak takut menghadapi dosen maupun ujian akhir. Menurutnya, mahasiswa perlu berani mempertahankan ide dan argumen yang dimiliki.
“Kita datang sebagai pejuang, kita harus pulang sebagai pemenang,” tutup Yesaya.
Sementara itu, mahasiswa lulusan terbaik dari Program Studi Ilmu Komunikasi diraih oleh Syela Fitriani. Sama seperti Yesaya, Syela mengaku tidak pernah memperkirakan dirinya akan mendapatkan predikat tersebut.
“Jujur cukup terkejut karena tidak memperkirakan akan menjadi lulusan terbaik. Selama ini saya merasa menjalani perkuliahan seperti biasa,” ujar Syela.
Syela mengaku menjalani masa perkuliahan dengan santai dan tidak terlalu ambisius. Ia membagi waktunya dengan menempatkan kegiatan akademik sebagai prioritas, sedangkan kegiatan organisasi dilakukan di luar waktu kuliah.
“Saya menjalani perkuliahan dengan santai. Ketika waktunya kuliah, saya fokus pada perkuliahan, sedangkan kegiatan organisasi saya jalani di luar waktu kuliah. Saya tidak terlalu berambisi dalam segala hal dan menjalaninya seperti biasa,” ungkap Syela.
Di luar kegiatan akademik, Syela aktif dalam organisasi PERHUMAS Muda Malang Raya. Menurutnya, keaktifan dalam organisasi tetap harus disesuaikan dengan tujuan utama sebagai mahasiswa.
“Tujuan kita di sini adalah kuliah. Organisasi itu hanya tambahan. Jadi, dahulukan perkuliahan dibandingkan yang lain,” ujarnya.
Setelah resmi menyandang status sebagai lulusan, Syela juga ingin terlebih dahulu mengabarkan kabar kelulusannya kepada orang tua. Baginya, dukungan orang tua menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan selama menjalani perkuliahan.
Bagi mahasiswa yang masih menjalani perkuliahan, khususnya yang mulai memikirkan skripsi, Syela berpesan agar tidak terlalu membebani diri dengan anggapan bahwa perkuliahan maupun skripsi selalu sulit.
“Jalani perkuliahan dengan tenang dan jangan terlalu terpaku pada perkataan orang lain yang menganggap skripsi atau perkuliahan itu sulit. Jalani saja prosesnya,” katanya.
Kisah Yesaya dan Syela menunjukkan bahwa predikat lulusan terbaik tidak selalu lahir dari ambisi untuk menjadi yang terbaik. Keduanya menjalani perkuliahan dengan cara masing-masing, tetap aktif di luar kelas, namun tidak mengesampingkan kewajiban akademik. (Esmeralda)
Tidak ada komentar