Menghadap Balai Kota, Menolak Lupa: Satu Dekade Aksi Kamisan Malang Merawat Ingatan

Taufik   dalam aksi kamisan Malang pada Kamis (10/09/26).

 Papyrus – Memperingati perjalanan satu dekade (10 tahun), Aksi Kamisan Malang kembali menggelar aksi damai di depan Balai Kota Malang pada Kamis (10/9/2026). Aksi yang bertepatan dengan momentum sepuluh tahun konsistensi menyuarakan isu-isu Hak Asasi Manusia (HAM) ini dihadiri oleh sekitar 100 partisipan dari berbagai elemen masyarakat.

Peringatan satu dekade ini menjadi momen refleksi sekaligus pembenahan internal. Fasilitator Aksi Kamisan Malang, Taufik, menjelaskan bahwa panitia sedang memperbaiki sistem regenerasi komite agar pergerakan ini dapat terus berjalan secara konsisten dan terorganisir.

"Dulu untuk sistem komite dari Kamisan itu sukarela dan masih belum banyak sistem yang bisa diterapkan. Tapi untuk sekarang, sistem regenerasi komite itu mencoba untuk kita perbaiki, kita tata ulang sehingga semoga Aksi Kamisan Malang ini bisa menjadi aksi yang konsisten selalu," tutur Taufik saat diwawancarai, pada Kamis (10/09/26).

Selain pembenahan struktur komite, Aksi Kamisan Malang juga menerapkan format baru yang telah berjalan selama tiga minggu terakhir. Massa aksi kini berdiri berbaris rapi menghadap ke gedung Balai Kota Malang dan memberlakukan aturan bebas asap rokok di tengah barisan agar lebih inklusif. Menurut Taufik, perubahan posisi ini mengadopsi format Aksi Kamisan nasional di Jakarta.

"Filosofis dari Kamisan Jakarta yang ada di pusat, tentunya itu sebagai bentuk supaya kita dilihat bahwa kita, kaum-kaum yang melawan ini, ada persis di depan hidung penguasa. Setiap Kamis kita selalu ada di depan hidung penguasa, tapi mereka tidak pernah lihat," tegas Taufik.

Terkait respon dari pihak pemerintah terhadap tuntutan penuntasan kasus-kasus HAM, Taufik menyinggung fakta lapangan yang terjadi selama ini, baik di pusat maupun di daerah.

"Bagaimana respon dari pemerintah sudah terbukti di Jakarta ya, sudah 18 tahun Aksi Kamisan berdiri belum pernah sekalipun ditengok. Kalau di Jakarta seperti itu ya apalagi kita di sini. Cuma ini adalah menurut saya salah satu benteng terakhir kita untuk terus mengingat dan terus melawan," jelasnya.

Ia juga menambahkan bahwa sikap acuh dari penguasa tidak akan melunturkan semangat gerakan. "Tentu terkait hal itu kita nggak bisa berharap banyak ya, kita tahu tone deaf. Cuma lagi-lagi semoga Aksi Kamisan itu selalu bisa jadi ruang untuk terus mengeskalasikan gerakan untuk lebih besar, untuk lebih masif dan lebih punya dampak," tambah Taufik.

Rangkaian acara peringatan 10 tahun ini turut diisi dengan kelas refleksi bersama akademisi yang diundang dari Universitas Brawijaya dan Universitas Negeri Malang (UM) untuk memberikan pemikiran baru.

Meskipun menghadapi sikap pemerintah yang dingin, Aksi Kamisan Malang menegaskan komitmennya untuk tetap memelihara kesadaran publik.

"Tajuk awalnya Aksi Kamisan kan menolak lupa merawat ingat. Jadi kita di Aksi Kamisan Malang ini berupaya untuk selalu merawat ingatan teman-teman bahwa masih ada yang terus melawan, bahwa masih ada yang terus bersuara," pungkas Taufik. (Esmeralda)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.