Satu Dekade Aksi Kamisan Malang: Mahasiswa Geruduk Balai Kota, Tuntut Penuntasan Tragedi Kemanusiaan
| Muhammad Azhar Zidan saat menyampaikan orasi di depan gedung DPR Balai Kota Malang dalam aksi Satu Dekade Kamisan, Kamis (10/09/26) |
Papyrus - Persoalan tragedi kemanusiaan serta kemiskinan yang masih menonjol di kalangan masyarakat yang lemah. Aksi demonstrasi pada satu Dekade (10 Tahun) dapat menuntut untuk mengusut tuntas peristiwa ini, oleh Mahasiswa Malang atas ketidak adilan yang selalu terjadi, di setiap rezim kepala negara. Di Balai Kota. Pada Kamis, (10/09/26) Malang.
Muhammad Azhar Zidan yang merupakan salah satu perwakilan komite serta fasilitator dari Kamisan Malang Menyampaikan, sejak Argentina berdiri pada sekitar 1970-an di Buenos Aires di Argentina untuk menagih, mencari, demi mengetahui informasi seputar anak -anak yang hilang di tahun-tahun sebelumnya, setelah terdapat gundeta militer di Argentina. Mereka berdiri di salah satu tempat di ibu kota Argentina kemudian memakai selendang putih sebagai simbol bahwa anak-anak kita yang masih kecil tidak bisa terpisahkan dari orang tua. Sebagai simbol bahwa mereka masih memakai popok berwarna putih, inspirasi itulah yang kemudian dipakai di Indonesia pada tahun 2007.
Kamisah dilakukan karena diinisiasi oleh beberapa orang seperti ibu Suciwati istrinya Samunir dan ibu Berzo Untung, adalah salah satu penyintas di tahun 1965, tragedi kemanusiaan sejak tahun 1965, Kemudian ada Ibu Sumansi, adalah ibu dari seorang anak yang meninggal, yang dibunuh oleh negara di tragedi Semanggi satu tempat,
"Ia menyampaikan, Aksi Kamisan menjadi sekedar ruang pertemuan, Kawan-kawan. Aksi Kamisan adalah sarana bagi kita untuk berkumpul, belajar, berusaha meningkatkan kapasitas diri, dan terus tumbuh," ujarnya
Azhar menyampaikan, mungkin perlawanan ini bukan kita yang menikmati, kawan -kawan, Tetapi anak cucu, cicit kita di kelak nanti. Tapi yang dibutuhkan hari ini setidaknya adalah perjuangan yang tidak hanya satu tahun atau dua tahun saja, tapi punya perjuangan nafas yang lebih lama.
"Ia mengajak, setelah itu saya ingin beranjak untuk sedikit membincangkan tentang anak muda, karena sepertinya juga cukup rilis dengan kawan -kawan. Ada banyak tulisan yang menyebutkan bahwa generasi Z, hari ini setidaknya ditandai sejak tahun 2019, ada yang menyebutnya sejak tahun 2022 sampai tahun 2026, itu memulai banyak sekali perlawanan-perlawanan, tidak hanya di Indonesia, tapi di banyak negara," Ungkapnya Azhar
Azhar pernah berpendapat bahwa, itu merupakan sifat atau karakter dari gen Z sendiri atau kaum muda
seperti kita. Tapi di balik kondisi konkret hari ini, memang menyuguhkan, dengan mengharuskan kita untuk terus bergerak di sisi pahlawan.
Dengan melihat kondisi kerusakan alam, krisis iklim, korupsi, dan lain sebagainya. Hal itu bisa kita rasakan secara langsung dalam aktivitas kita sehari-hari, atau kegiatan yang sangat personal bagi kita.
Di Kenya, di Bangladesh, di Nepal, di Mesir, di beberapa negara-negara di Amerika Latin, kaum muda telah bangkit, mengorganisir diri, melakukan berbagai macam perlawanan-perlawanan.
Sebagian dari mereka barangkali ditahan, dikenai kekerasan dan lain sebagainya.
Tapi mereka terus bangkit, Setidaknya lima tahun terakhir sejak tahun 2022 sampai hari ini.
"Saya ingin mengatakan bahwa, perlawanan kita ini terhubung, dengan berbagai macam aspiras anak muda di banyak negeri. Tidak hanya di Indonesia," tegasnya Azhar
Tapi, kawan-kawan, berbagai macam perlawanan itu ada yang menghasilkan sesuatu, memang ada di banyak tempat.
Yang sangat banyak berhasil menggulingkan rezim pemerintahannya.
Ketika kemenangan itu justru diambil alih oleh elit lama, atau yang lainnya adalah ketika kemenangan yang diorganisasikan oleh anak muda, diambil alih oleh elit militer, atau kekuasaan militer. Oleh karena itu, kawan-kawan, hendaknya, kita bisa terus berhubung satu sama lain. Kita terus belajar, terus membaca, terus berdiskusi, dan terus ikut aksi kamisan.
"Saat kulasara makam Afwan masih mengering, dan kembali digenangi hujan bulan November, juga daun -daun Kamboja layu yang terhempas satu tahun setelahnya, saat saya lihat anak-anak menabur tangis di pangkuan nenek, dan kembali tersenyum saat ibu dan bapak pulang di petang harinya, juga dekapan kesunyian yang membuatnya tertidur pulas.
Saat kulihat gerombolan kaum muda keluar dari pagar-pagar sekolah dan kembali menulis pada arsiran kertas-kertas di malam harinya, juga kepedulian yang mengeluas hingga ke rakyat di kaki-kaki bukit non jauh.
Tak ada, tak ada luka yang sama sekali membersihkan bekas. Tak ada kemiskinan yang tak bisa dilawan.
Tak ada, tak ada yang bisa menghalangi datangnya zaman kebangkitan," ungkapan isi hatinya Azhar, melalui Puisi, saat massa aksi demonstrasi. (Rika)
Tidak ada komentar