Header Ads

ad

Minoritas Mahasiswa Jawa di Kampus Jawa

Suasana kantin Unitri


LPM-papyrus.com- Perguruan tinggi atau Universitas di Jawa diburu banyak kalangan untuk melanjutkan pendidikan dari berbagai latar belakang dan daerah. Hal ini membuat menjamurnya kampus di daerah Jawa tidak menjadi penghalang kampus untuk tidak eksis. Akan tetapi berbicara mengenai jumlah mahasiswa di kampus Jawa ada fakta menarik yang patut dibahas yaitu minoritas mahasiswa Jawa di kampus Jawa sendiri.

Fakta tersebut dapat dilihat langsung di Universitas Tribhuwana Tunggadewi (Unitri) sebagai  salah satu kampus kerakyatan di kota Malang.

Mahasiswa Unitri sangat banyak di dominasi oleh mahasiswa luar Jawa khususnya dari Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Kalimantan.

Menurut data yang dirangkum Papyrus, Mahasiswa Jawa sendiri terletak pada 5% keberadaannya, dibandingkan mahasiswa Timur yang mendominasi kampus.

"Mahasiswa Jawa seperti Madura, Trenggalek, Malang dan seluruh anak Jawa bisa dikatakan populasinya hanya sekitar 5%. Sementara mahasiswa Timur 70% dan Kalimantan 25%," terang Wahyu Widodo selaku ketua Unit Penerimaan Mahasiswa Baru (UPMB).

Minoritas mahasiswa Jawa diduga karena kurangnya sosialisasi dari kampus Unitri dan banyaknya mahasiswa Jawa yang memilih pendidikan di kampus bergengsi yang dikenal masyarakat umum.

"Saya melihat dari dugaan saja bahwa sosialisasi dari kampus kurang  untuk mengenalkan Unitri di daratan Jawa Timur. Tidak terciptanya brand kampus seperti membuat baliho di jalan besar sehingga kurang dikenal juga menjadi penghalang. Memilih Universitas dengan label kampus bergengsi diluar Unitri agar muncul kebanggaan juga menjadi faktor penyebab kurangnya mahasiswa Jawa, padahal untuk kampus Unitri sendiri sudah sangat bagus," ungkap Wahyu.

Dihubungi Papyrus, salah satu mahasiswa asal Jawa, Suryantini   melihat kampus Unitri memang sangat didominasi oleh mahasiswa luar. Hal tersebut menimbulkan sedikit rasa  kecewa namun tetap menjadi kebanggaan tersendiri baginya.

"Cukup kecewa karena ini kampus Jawa  tetapi malah mahasiswa Jawa hanya beberapa saja yang bisa dilihat. Hal ini bisa dilihat dari keikutsertaan dalam organisasi yang jarang sekali saya temui anak Jawa," akunya.

Di lain sisi dia mengaku kampus Unitri tidak menimbulkan efek negatif bagi mahasiswa karena keberagaman dibarengi dengan toleransi yang tinggi.

"Saya merasa menjadi orang yang beruntung masuk di kampus ini. Mengenal banyak keberagaman dari mahasiswa luar Jawa dibarengi dengan toleransi tinggi cukup membanggakan, " tutup suryantini.

Kampus Unitri sejak tahun 2001 sudah di dominasi oleh mahasiswa luar Jawa. Namun hal tersebut tidak menjadi penghalang untuk Unitri  memberikan miniatur Indonesia yang bagus. Sehingga untuk belajar tentang keberagaman Indonesia kita bisa langsung lihat di kampus Unitri yang punya jargon 'Education For All' tersebut.

Keberagaman bahasa, warna kulit,  juga kebiasaan unik mahasiwa dari Sabang-Merauke hingga beberapa mahasiswa dari Negara Timor Leste yang terpisah dari Indonesia tahun 1999 ini bisa kita lihat di Unitri. (yaniz/syifa)

No comments